166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Kejayaan Tjipetir, Penghasil Gula Dunia, dan Cita Cita Swa sembada Pangan Dinegeri Sendiri

Oleh : Agus Widjajanto 

Jakarta, retorika.space~Bangsa ini adalah ibarat bangsa raksasa yang sedang tidur (sleeping giant) untuk mencapai sebuah bangsa yang besar bagai raksasa dunia tergantung dari pada kebijakan para pemimpin nya, yang didukung oleh sistem politik dan keamanan yang stabil serta dukungan seluruh elemen rakyat. 

Mental para anak bangsa sendiri lah sesungguh nya yang jadi penghalang adanya kemerdekaan yang sejati untuk bangun nya sebuah bangsa raksasa yang sedang tertidur ini, dimana budaya korupsi, minta dilayani, berperilaku layak nya ndoro (bos besar) yang membikin bangsa ini tetap tidak pernah mencapai kemajuan, padahal sejatinya pejabat adalah pelayan rakyat, karena pemilik negara ini adalah rakyat (dalam arti suara tuhan adalah suara rakyat) yang mana harus nya bersikap sebagai pelayan rakyat, baik dari level RT, RW, Kelurahan / Desa, kecamatan, Bupati/ walikota, Gubernur, para pejabat eselon 1, pembantu presiden, bahkan presiden selaku mandaratis Rakyat adalah pelayan rakyat. Mereka menjabat untuk melayani rakyat untuk mencapai cita cita bangsa raksasa yang mandiri. 

Di jawa pernah mencapai penghasil komuditas pertanian terbesar di dunia saat kolonial belanda, Pasca Perang Diponegoro (1825-1830), dimana kas pemerintahan kolonial bangkrut akibat perlawanan rakyat yang dikenal dengan perang jawa, yang dipimpin oleh anak Hamengkubuwono ke 3 yakni Pangeran Ontowiryo, Belanda mulai intensifkan sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) di Jawa:

- Karet (gutta-percha): Mulai banyak ditanam di Jawa (Sukabumi, dll) untuk memenuhi kebutuhan industri Eropa

- Tebu (gula): Perkebunan tebu meluas di Jawa, bikin Jawa jadi produsen gula terbesar kedua dunia

Tanam Paksa ini bikin ekonomi kolonial Belanda untung besar, tapi juga berdampak berat buat rakyat pribumi.

Akibat tanam paksa ini jawa dikenal sebagai penghasil karet nomor satu didunia dan penghasil gula putih terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Coba bayangin betapa membanggakan dunia pertanian kita, yang bangsa ini dikaruniai alam yang sangat subur. 

Jawa memang pernah jadi pusat produksi karet (gutta-percha) dan gula terbesar di dunia pada masa kolonial Belanda!

- Karet (gutta-percha): Jawa (Sukabumi, dll) jadi salah satu produsen terbesar dunia

- Gula: Jawa jadi produsen gula terbesar kedua di dunia (setelah Kuba) pada abad keke

Ekonomi kolonial Belanda banyak bergantung pada produksi gula dan karet di Jawa.

Salah satu nya adalah pabrik karet Tjipetir sukabumi. Pabrik Karet Tjipetir Sukabumi zaman kolonial punya sejarah yang keren!

- Didirikan tahun 1855 oleh pemerintah kolonial Belanda

- Produksi gutta-percha untuk isolator kabel telegraf bawah laut dan lain-lain

- Pernah jadi produsen gutta-percha terbesar di dunia

- Bangunannya masih berdiri di Sukabumi, jadi destinasi wisata sejarah

Blok Tjipetir Sukabumi yang ditemukan di pantai-pantai Eropa ternyata punya cerita yang sangat menarik dan membanggakan sebagai anak bangsa atas kasanah kekayaan masa lalu dari bangsa ini jika dikelola dengan baik, dan Akuntable , bisa menciptakan swa sembada pangan seperti hal nya saat jaman Orde baru, murah sandang papan pangan, 

Pada 2012, Tracey Williams, seorang warga Inggris, menemukan blok karet bertuliskan "Tjipetir" di pantai Cornwall. Setelah diselidiki, ternyata blok itu berasal dari Pabrik Tjipetir di Sukabumi, Jawa Barat, yang memproduksi gutta-percha, bahan alami yang digunakan untuk isolator kabel telegraf bawah laut dan lain-lain.

Dugaannya, blok-blok Tjipetir ini berasal dari kapal Miyazaki Maru yang tenggelam pada 1917 setelah diserang kapal selam Jerman. Kapal itu membawa muatan gutta-percha dari Yokohama menuju London

Pabrik Tjipetir sendiri didirikan pada 1855 dan pernah menjadi produsen gutta-percha terbesar di dunia. Sekarang, bangunan pabriknya masih berdiri dan menjadi destinasi wisata sejarah di Sukabumi

Penemuan blok Tjipetir di Eropa bikin peneliti terkesima karena menunjukkan bahwa Indonesia (terutama Sukabumi) pernah jadi salah satu produsen gutta-percha (karet alami) terbesar di dunia pada awal abad ke-20.

Pabrik Tjipetir Sukabumi sendiri pernah jadi produsen gutta-percha terbesar di dunia

Pada Perang Dunia I, Jerman lakukan blokade laut terhadap Inggris dengan U-boat (kapal selam) buat melemahkan ekonomi Inggris.

- 1915: Jerman mulai kampanye U-boat tak terbatas, serang kapal-kapal sekutu (termasuk netral)

- Kapal penumpang RMS Lusitania ditenggelamkan (1915), bikin AS marah

- Blokade ini berdampak besar pada perdagangan Inggris, tapi juga bikin Jerman kena tekanan internasional

Salah satu kapal yang tenggelam akibat blokade ini adalah Miyazaki Maru (1917), yang bawa muatan gutta-percha dari Tjipetir, Sukabumi

Demikian pula prabrik pabrik gula di jawa , Di medio tahun 70-an hingga 80-an, banyak pabrik gula peninggalan Belanda yang masih beroperasi dan menjadi penghasil gula pasir utama di Indonesia, bahkan mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Beberapa contoh pabrik gula yang masih aktif hingga saat ini antara lain:

- Pabrik Gula Asembagus di Situbondo

- Pabrik Gula Panji di Situbondo

- Pabrik Gula Wringinanom di Situbondo

- Pabrik Gula Prajekan di Bondowoso

- Pabrik Gula Rejoagung di Madiun

- Pabrik Gula Pagotan di Madiun

- Pabrik Gula Tersana Baru di Cirebon

- Pabrik Gula Sindanglaut di Cirebon

- Pabrik Gula Wonolangan di Probolinggo

- Pabrik Gula Gending di Probolinggo

- Pabrik Gula Mojo di Sragen

- Pabrik Gula Jombang di Jombang

- Pabrik Gula Rejoso Manis Indo di Blitar

- Pabrik Gula Merican di Kediri

- Pabrik Gula Pesantren Baru di Kediri

- Pabrik Gula Krembung di Sidoarjo

- Pabrik Gula Gempolkerep di Mojokerto

Pabrik-pabrik gula ini merupakan peninggalan era kolonial Belanda dan masih menjadi bagian penting dari industri gula di Indonesia

Melihat sejarah kebelakang bangsa ini, maka kita bukan bangsa kuli, kita bisa jadi bangsa raksasa karena dikaruniai alam yang begitu subur nya, namun karena pengelolaan nya yang tidak pernah tepat akhirnya justru kita sebagai pengimport gula dan pengimpor beras, serta barang2 elektronik dan tehnologi tinggi sebagai pangsa pasar paling potensial didunia alias bangsa jajahan sebagai bangsa terjajah secara ekonomi, bahkan budaya dan politik , yang selalu berkiblat kepada sistem import seolah bangsa ini tidak punya, warisan sistem politik yang khas indonesia berdasar local wisdom, ini kesalahan kita bersama.

Peneliti dan ahli sosial politik Barat yang menyatakan Indonesia akan tetap terjajah adalah J.C. van Leur. Namun, ada beberapa teori dan pendapat dari ahli lain yang juga membahas tentang kolonialisme dan imperialisme di Indonesia.

Beberapa ahli Barat yang membahas tentang kolonialisme dan imperialisme di Indonesia antara lain:

- J.C. van Leur: Seorang sejarawan Belanda yang menyatakan bahwa Indonesia akan tetap terjajah karena struktur ekonomi dan sosial yang diciptakan oleh kolonialisme.

- Jan Breman: Seorang ahli sosial politik yang membahas tentang prasangka rasial dan kekerasan kolonial di Hindia Belanda.

- Peter Carey dan Farish A. Noor: Penulis buku "Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda" yang membahas tentang konstruksi kolonial atas ras dan identitas Q

Namun, perlu diingat bahwa pendapat-pendapat ini tidak selalu akurat dan dapat berbeda-beda tergantung pada perspektif dan konteks sejarah.

Yang pasti kita tidak pernah berpegang pada sejarah bangsa, dimana Soekarno sendiri selalu bapak bangsa menggelorakan tri sakti yakni kemandirian dalam bidang politik, kemandirian dalam bidang ekonomi dan kemandirian dalam bidang budaya. Apabila ajaran Tri Sakti ini dipedomani segenap anak bangsa dan para pengambil kebijakan maka Indonesia akan mencapai kemerdekaan yang sejati, bukan lagi sebagai negara raksasa yang tidur lagi akan tetapi Raksasa yang sudah berdiri tegak menatap langit, Indonesia Raya.

Penulis, pemerhati masalah sosial budaya ,tinggal di jakarta

Posting Komentar

Posting Komentar