166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Inggit Ganarsih Seorang Inspirator Serta Stabilisator dan Sekaligus Dinamisator Bagi Bung Karno

Oleh : Agus Widjajanto 

Jakarta, retorika.space~Telah banyak ditulis diberbagai buku sejarah awal kemerdekaan, bahwa Seorang  Inggit Garnasih merupakan inspirator, stabilisator, dan dinamisator bagi Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia menjadi sumber kekuatan dan dukungan bagi Soekarno, membantu meningkatkan semangat dan motivasi beliau dalam menghadapi tantangan perjuangan. betapa berat dan besar tekanan yang dihadapi Soekarno dalam persiapan kemerdekaan saat itu, dimana bung Karno memerlukan sosok wanita yang sangat dikagumi dan dicintai nya yang bisa memberikan aspirasi dalam keputusan politik, bisa sebagai stabilisator bagi bung karno dalam pengembangan emosi nya serta sekaligus sebagai dinamisator bagi perjuangan nya, dan hal ini hanya didapat dari seorang janda cantik mojang periangan Inggit Ganarsih. Dia seorang pejuang dan seorang ibu bagi bangsa ini dalam mengantarkan ke pintu gerbang Kemerdekaan

Inggit Garnasih dikenal memiliki kecerdasan yang luar biasa dan menguasai beberapa bahasa, antara lain:


- Bahasa Sunda (bahasa ibu)

- Bahasa Jawa

- Bahasa Melayu (Bahasa Indonesia)

- Bahasa Belanda


Kecerdasan dan kemampuan bahasanya membuatnya menjadi kawan berdiskusi yang sangat baik bagi Soekarno, yang sering membahas ide-ide dan strategi perjuangan kemerdekaan dengan Inggit.


Dengan alasan kepentingan politik  Soekarno menceraikan Inggit Ganarsih pada tahun 1943, dan menikahi Fatmawati. Kemudian Fatmawati dinikahi Soekarno pada tahun 1943 di Bengkulu, Sumatera. Hindia belanda  dibawah kekuasaan bala tentara jepang  dan Fatmawati adalah putri seorang pengusaha kaya di daerah tersebut.


Inggit Garnasih bersama Soekarno dari tahun 1923 hingga tahun 1943, yaitu selama sekitar 20 tahun. Mereka berpisah pada 1943, saat Soekarno menikahi Fatmawati.


Bahwa keputusan Soekarno meninggalkan Inggit Garnasih  atas saran dari Haji Agus Salim, seorang tokoh nasional dan diplomat Indonesia.


Haji Agus Salim menyarankan Soekarno untuk meninggalkan Inggit dan menikahi Fatmawati untuk meningkatkan popularitas dan pengaruhnya di kalangan masyarakat, terutama di Sumatera. Saran ini juga didukung oleh Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.


Soekarno meninggalkan Inggit Garnasih pada 1943, saat Jepang menjajah Indonesia. Soekarno diminta oleh pemerintah Jepang untuk menikahi Fatmawati, putri seorang pengusaha kaya di Bengkulu, untuk meningkatkan popularitas dan pengaruhnya.


Keputusan Soekarno meninggalkan Inggit atas saran H Agus Salim seorang deplomat senior saat itu, serta  Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, yang ingin Soekarno memiliki hubungan yang lebih strategis dengan tokoh-tokoh nasional lainnya. Mereka juga ingin Soekarno memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan.


Namun, perlu diingat bahwa keputusan Soekarno meninggalkan Inggit sangatlah sulit dan memiliki dampak besar bagi Inggit. Inggit tetap setia kepada Soekarno dan terus mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.


Istri pertama Soekarno adalah Oetari, seorang wanita Jawa yang berasal dari Surabaya anak dari HOS Tjokroaminoto guru dari bung karno dan para pejuang kemerdekaan saat itu. Mereka menikah pada 1916 dan berpisah pada 1921. Pernikahan mereka tidak berlangsung lama dan tidak memiliki anak, dimana Oetari dikembalikan ke orang tuanya yang saat itu ada di Daerah Purwodadi Grobogan jawa tengah. Dan  Soekarno kemudian menikah dengan Inggit Garnasih pada 1923.


Dalam Buku "Inggit Garnasih: Biografi Seorang Pejuang" oleh Taufik Ismail menceritakan tentang kehidupan Inggit Garnasih, istri kedua Soekarno, yang memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.


Inggit lahir pada 17 Februari 1888 di Desa Kamasan, Bandung, dari keluarga petani sederhana. Dia menikah dengan Soekarno pada 1923 dan menjadi pendamping setia dalam perjuangan kemerdekaan.


Inggit mendukung Soekarno secara emosional, finansial, dan intelektual, bahkan saat menghadapi kesulitan dan penjara. Dia juga menjadi tempat curhat dan diskusi Soekarno, serta membantu mengumpulkan dana untuk perjuangan kemerdekaan 


Buku ini menggambarkan Inggit sebagai sosok yang kuat, cerdas, dan berani, yang tidak hanya menjadi istri Soekarno, tetapi juga menjadi "Srikandi Indonesia" yang mendukung perjuangan kemerdekaan


Seorang Inggit Ganarsih wanita yang sangat menawan yang diciptakan secara terbatas (Limited Edition) oleh yang Kuasa, sangat mirip peran nya dengan sosok Gayatri Rajapadni 


Inggit Garnasih dan Ratu Gayatri Rajapadni memiliki beberapa kesamaan, seperti:


- Kesetiaan dan pengorbanan: Inggit setia kepada Soekarno, sementara Ratu Gayatri setia kepada Raja Kertanegara.

- Peran penting dalam sejarah: Inggit berperan dalam perjuangan kemerdekaan, sementara Ratu Gayatri berperan dalam sejarah Majapahit.

- Kekuatan dan kecerdasan: Inggit dan Ratu Gayatri dikenal sebagai wanita kuat dan cerdas.


Namun, ada perbedaan signifikan:

- Latar belakang: Inggit berasal dari keluarga biasa, sementara Ratu Gayatri adalah bangsawan.

- Peran politik: Ratu Gayatri memiliki peran politik langsung, sementara Inggit lebih berperan sebagai pendamping Soekarno.


Jadi, bisa dikatakan Inggit Garnasih memiliki beberapa kesamaan dengan Ratu Gayatri, tapi tidak sepenuhnya sama. Inggit lebih merupakan sosok inspiratif yang unik dalam sejarah Indonesia.


Inggit Garnasih menunjukkan kesetiaan luar biasa kepada Soekarno, menjadi pendamping setia dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dia mendukung Soekarno secara emosional, finansial, dan intelektual, bahkan saat menghadapi kesulitan dan penjara.


Beberapa contoh kesetiaan Inggit:

- Membesuk Soekarno di penjara: Inggit secara rutin membesuk Soekarno di penjara, memberikan dukungan moral dan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

- Mengurus keuangan: Inggit mengelola keuangan keluarga dan membantu mengumpulkan dana untuk perjuangan kemerdekaan.

- Menjadi tempat curhat: Inggit menjadi tempat curhat Soekarno, mendengarkan dan memberikan saran bijak.

- Mengantar Soekarno ke depan pintu gerbang kemerdekaan: Inggit hadir saat Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.


Kesetiaan Inggit Garnasih kepada Soekarno merupakan inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan kekuatan cinta dan pengorbanan dalam perjuangan kemerdekaan.


Sebelum menikah dengan Soekarno, Inggit Garnasih menikah dengan Haji Sanusi, seorang jaksa di Bandung. Mereka menikah pada 1907 dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Poetri (Putri). Namun, pernikahan mereka tidak berlangsung lama, dan mereka berpisah pada 1921. Inggit kemudian menikah dengan Soekarno pada 1923.


Inggit Garnasih, istri kedua Soekarno, memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Rumahnya di Jalan Inggit Garnasih, Bandung, menjadi pusat pertemuan dan diskusi para tokoh pergerakan nasional, seperti Hatta, Moh Yamin, dan Ki Hajar Dewantoro.


Inggit lahir pada 17 Februari 1888 di Desa Kamasan, Banjaran, Bandung. Dia menikah dengan Soekarno pada 1923 dan menjadi pendamping setia dalam perjuangan kemerdekaan. Inggit juga membantu Soekarno dengan menjadi penerjemah dan menyediakan kebutuhan hidupnya saat dipenjara.


Rumah Inggit Garnasih kini menjadi museum dan cagar budaya, menyimpan kenangan perjuangan dan cinta Soekarno dan Inggit. Inggit wafat pada 13 April 1984, meninggalkan warisan perjuangan dan inspirasi bagi generasi muda


Pelajaran yang bisa dipetik dalam auto biografi seorang wanita Inggit Ganarsih adalah bahwa kadang cinta kesetiaan harus dikorbankan demi sebuah perjuangan kemerdekaan saat secara politis, apapun alasan nya seorang Inggit Ganarsih adalah seorang pejuang, seorang wanita sejati yang memang dikaruniai cinta dan kasih sayang nya dibawa hingga tiada, bagi seorang Soekarno semata. Seorang wanita yang memang diciptakan secara terbatas oleh Tuhan Yang Esa (Limited Edition) peran dan sumbangsih mu bagi bangsa ini tidak bisa dinilai dengan apapun, ibu Inggit Ganarsih, hanya doa yang bisa kami berikan kepadamu, dari anak anak negeri saat ini. Amin. 


Penulis adalah pemerhati sosial budaya, dan sejarah bangsanya.

Posting Komentar

Posting Komentar