166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Soekarno, Wahyu Cakraningrat dan Mistik Pemimpin Indonesia

Oleh : Agus Widjajanto 

Retorika.space - Masa Perang Kemerdekaan melawan Imperalisme yang masih bercokol menduduki Wilayah Hindia Belanda yang lalu di kenal dengan Teritorial Wilayah Indonesia, baik semasa pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan, seorang tokoh politik sang Proklamator dan presiden pertama Republik ini, bernama Soekarno dengan nama kecil Kusno, anak seorang bangsawan bali, dikenal sangat Kharismatik mempunyai karisma mistik yang begitu besar yang bisa mempengaruhi massa dalam pergolakan revolusi saat itu, hingga majalah time edisi 10 maret 1958 mengulas khusus tentang sisi karismatik mistik ini dalam diri sang proklamator yang disebut putra sang fajar, yang lahir pada kamis pon, dimana hari kelahiran para nabi, yang diyakini dalam hitungan jawa hari kelahiran yang tiada tanding dalam sisi spriritualisme jawa. 

Dalam buku dibawah Bendera Revolusi jilid 1 pada halaman penutup yang ditulis Soekarno dan dalam tulisan tangan beliau dinyatakan hanya yang berjiwa Wahyu Cakraningrat dan mendapat amanah nya yang mampu membawa bangsa ini bangsa yang besar menjadi mercusuar dunia sebagai kiblat Dunia. Lalu apa itu wahyu cakraningrat atau Wahyu Tjokroningrat? 

Wahyu Cakraningrat dalam lakon wayang kulit yang di ciptakan oleh Sunan (Guru Spriritual jawa) Kalijaga atau RM said, salah satu penyebar agama islam dijawa pada medio abad ke 14 Masehi, yang melambangkan anugerah atau rahmat bagi seseorang calon pemimpin yang berhati mulia dari Yang Kuasa yang berjuang demi masyarakat banyak dan bangsa nya yang bisa mengayomi seluruh rakyat dan seluruh agama kepercayaan yang dianut nya, merupakan manifestasi dari sisi kehidupan nyata dalam spuritualisme jawa yang merupakan ciri khas kepemimpinan Indonesia dari masa ke masa yang membedakan antara Indonesia dengan negara lain di dunia. 

Dalam budaya jawa wahyu ini merupakan syarat datang nya pemimpun atau Ratu adil yang akan membawa rakyat mencapai kesejahteraan dan keharmonisan menuju adil makmur gemah ripah loh jinawe, toto tentrem kerto raharjo. 

Pesan dari pada wahyu tjokroningrat (Cakraningrat) adalah selalu diberikan kepada seseorang yang amanah, yang merupakan hak prerogratif yang kuasa atas kehendaknya dan atas usulan permohonan dari para leluhur negeri ini yang telah menjaga nusantara ini dari waktu kewaktu.

Konsep wahyu bagi pemimpin Indonesia menurut Ronggowarsito adalah tentang seorang pemimpin yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan dan rakyat. Wahyu di sini bukan hanya tentang pengetahuan spiritual, tapi juga tentang kemampuan untuk memahami dan menjalankan kebijaksanaan dalam memimpin.

Ronggowarsito menulis tentang konsep ini dalam karyanya, seperti Serat Centini dan Serat Paramayoga. Ia menekankan pentingnya seorang pemimpin memiliki sifat-sifat seperti sabar, adil, dan bijaksana, serta mampu memahami dan menjalankan kehendak Tuhan.

Dalam konteks kepemimpinan Indonesia, konsep wahyu ini dapat diartikan sebagai kemampuan seorang pemimpin untuk memahami dan menjalankan kehendak rakyat, serta memiliki kebijaksanaan untuk membuat keputusan yang tepat.

Ronggowarsito juga menulis tentang tujuh Satrio Piningit yang akan memimpin Nusantara, yaitu:

- Satria Kinunjara Murwa Kuncara: pemimpin yang akrab dengan penjara

- Satria Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar: pemimpin yang memiliki harta dan wibawa, tapi sering dipersalahkan

- Satria Jinumput Sumela Atur: pemimpin yang diangkat karena situasi

- Satria Lelana Tapa Ngrame: pemimpin yang memiliki kemampuan spiritual

- Satria Piningit Hamong Tuwuh: pemimpin yang memiliki kharisma

- Satria Boyong Pambukaning Gapura: pemimpin yang membuka jalan bagi kemajuan

- Satria Pinandito Sinisihan Wahyu: pemimpin yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan dan rakyat

Konsep wahyu ini masih relevan dengan kepemimpinan Indonesia saat ini, karena menekankan pentingnya seorang pemimpin memiliki kebijaksanaan, keadilan, dan kemampuan untuk memahami dan menjalankan kehendak rakyat

Majalah Time edisi 10 Maret 1958 memang memuat artikel tentang Soekarno yang membahas sisi mistisnya. Artikel tersebut menggambarkan Soekarno sebagai seorang pemimpin yang memiliki kepercayaan kuat terhadap mistis dan spiritualitas.

Dalam artikel tersebut, Soekarno disebutkan memiliki hubungan dengan beberapa tokoh spiritual dan sering menggunakan intuisi spiritual dalam mengambil keputusan penting. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa Soekarno memiliki kepercayaan terhadap konsep "wahyu" atau ilham spiritual yang membimbingnya dalam kepemimpinannya.

Artikel tersebut juga menggambarkan Soekarno sebagai seorang pemimpin yang karismatik dan memiliki kemampuan untuk memotivasi rakyat Indonesia dengan pidato-pidatonya yang penuh semangat dan spiritualitas.

Namun, perlu diingat bahwa artikel tersebut ditulis pada tahun 1958, dan mungkin tidak sepenuhnya akurat atau objektif dalam menggambarkan Soekarno dan kepercayaan mistisnya.

Soekarno dikenal sebagai pemimpin yang penuh mistis di dunia Barat karena beberapa alasan:

1. Keterlibatan dengan spiritualitas: Soekarno memiliki kepercayaan yang kuat terhadap spiritualitas dan mistis. Ia sering menggunakan intuisi spiritual dalam mengambil keputusan penting dan memiliki beberapa tokoh spiritual yang mempengaruhi dirinya.

2. Penggunaan simbol-simbol mistis: Soekarno sering menggunakan simbol-simbol mistis dalam pidato dan kebijakan politiknya, seperti penggunaan lambang Garuda Pancasila dan konsep "Pancasila" yang memiliki makna spiritual.

3. Keterlibatan dengan tokoh spiritual: Soekarno memiliki hubungan dengan beberapa tokoh spiritual, seperti Raden Mas Pandji Sosrokartono dan KH Hasyim Asy'ari, yang mempengaruhi keputusannya.

4. Penggunaan bahasa yang puitis: Soekarno dikenal memiliki kemampuan bahasa yang puitis dan metaforis, yang sering kali diinterpretasikan sebagai bahasa mistis oleh dunia Barat.

5. Kebijakan yang tidak konvensional: Soekarno memiliki kebijakan yang tidak konvensional, seperti kebijakan "Konfrontasi" dengan Malaysia dan "Pemberontakan" terhadap imperialisme Barat, yang membuatnya tampak sebagai pemimpin yang penuh misteri dan mistis di mata dunia Barat.

Namun, perlu diingat bahwa Soekarno adalah seorang politikus yang sangat pragmatis dan memiliki visi yang jelas untuk Indonesia, dan bahwa mistisismenya lebih merupakan bagian dari konteks budaya dan spiritualitas Indonesia saat itu.

Beberapa tokoh spiritual yang mempengaruhi Soekarno adalah:

- Raden Mas Pandji Sosrokartono: seorang tokoh kebatinan yang sangat dihormati di Bandung dan guru spiritual Soekarno.

- Abdurrahman: seorang tokoh agama di Petojo Selatan, Jakarta Pusat, yang memberi referensi tentang tasawuf.

- Syeikh Musa Sukanegara: seorang ulama sufi dari Ciamis.

- KH Abdul Mu'thi: seorang ulama sufi dari Madiun.

- KH Hasyim Asy'ari: seorang ulama sufi dan pendiri Nahdlatul Ulama.

- Syeikh Abbas Abdullah: seorang ulama sufi yang memberi wejangan kepada Soekarno terkait sila pertama Pancasila.

- Syekh Kadirun Yahya: seorang mursyid Tarekat Naqsabandiyah yang memberi nasehat kepada Soekarno tentang kedekatan dengan Tuhan 

Dan beberapa tokoh spiritual jawa yang tentu sangat dirahasiakan namanya tidak pernah tertulis dan disebut ke pihak luar hanya Soekarno yang tahu.

Soekarno memiliki keyakinan yang kuat terhadap dunia mistis dan sering menggunakan intuisi spiritual dalam mengambil keputusan penting untuk negara dan bangsa Indonesia.

Sedangkan Guru Politik Soekarno saat jadi pelajar di Surabaya adalah HOS Tjokroaminoto beliau adalah seorang tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia lahir pada 16 Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa Timur, dan meninggal pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta.

Tjokroaminoto adalah salah satu pendiri Sarekat Islam (SI), organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia. Ia menjadi ketua SI pada tahun 1912 dan berhasil mengubah organisasi ini menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia saat itu.

Tjokroaminoto juga dikenal sebagai guru bagi beberapa tokoh penting Indonesia, seperti Soekarno, Semaun, Musso, dan Kartosuwiryo. Ia mengajarkan mereka tentang nasionalisme, politik, dan agama.

Rumah Tjokroaminoto di Surabaya sekarang menjadi Museum HOS Tjokroaminoto, yang menyimpan berbagai benda bersejarah terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tjokroaminoto diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1961. Ia dikenal sebagai "Guru Bangsa" karena kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia

Dalam perjalanan bangsa ini menuju pintu gerbang Kemerdekaan Yang sesungguh nya yang menurut hitungan berdasarkan jangka jayabaya dan kitab Paramayoga Ronggo Warsito akan datang setelah 2029 menjelang tahun 2030, yang mempunyai arti luas, merdeka dalam arti mencapai kemandirian dalam bidang ekonomi, kemandirian dalam.bidang Politik, kemandirian dalam bidang budaya, hingga Soekarno dalam salah satu pidato nya yang sangat terkenal menyatakan, jikalau kalian ingin jadi seorang Moelim jadi lah moeslim Indonesia yang berbudaya dan berdasarkan adat istiadat serta katakter Ke Indonesiaan, demikian juga jika kalian jadi orang Hindu dan Budha, serta Kristani tetaplah jadi insan Manusia Indonesia yang berbudaya dan berkarakter Indonesia, jangan jadi orang asing. 

Apalah nanti dipenghujung sesuai jangka jayabaya dan Ramalan Ronggo Warsito dalam serat Paramayoga indonesia masih seperti sekarang? Tentu akan mengikuti situasi Geo Politik dan Geo Strategis kawasam dan Global, sistem Negara boleh berubah, Bentuk dan desain negara boleh berubah tapi Karakter dan budaya adat istiadat dan keyakinan sebagai Bangsa Indonesia tetap harus bertahan dan menjadi mercusuar Dunia, karena bangsa ini adalah bangsa yang besar ibarat Raksasa yang sedang tertidur yang harus dibangunkan dari tidur panjang nya, dimana butuh sosok pemimpin yang bisa memberikan aspirasi dan petunjuk bagi masyarakat Dunia, bahwa Dunia ini bukan milik kita tapi titipan dari Syang Hyang Agung, yang harus kita jaga kita lestarikan dengan kasih dan sayang terhadap sesama dan alam semesta nya. 

Lalu apakah saat ini merupakan pemimpin m sesuai tulisan Ronggo Warsito dalam tahab pemimpin Satrio Pinandito Sisihane Wahyu? Silahkan para pembaca menafsirkan sendiri dari ulasan tulisan diatas, yang pasti hidup harus jalan terus .MERDEKA. 

Penulis adalah pemergati masalah sosial budaya

Posting Komentar

Posting Komentar