Retorika.space - Apa yang dikatakan oleh seorang wartawan timur tengah dari Indonesia yakni Faisal Asegaf, yang menyatakan dalam wawancara di beberapa media massa, bahwa sebulan sebelum Presiden Donald Trump menyerang iran bersama Israel, sesungguh nya Pentagon sudah mendeskripsikan bahwa Iran harus di jatuhkan secara militer skala penuh, yang berarti semua target sudah di skenario lama yang merupakan rencana besar (Blue Print) oleh Amerika dan Israel dalam menguasi Geo Politik dan Geo Strategis Timur Tengah sebagai penghasil minyak terbesar di Dunia saat ini.
Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, telah menyatakan bahwa Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan merupakan ancaman strategis baru bagi keamanan Israel, bahkan menyebutnya sebagai "Iran baru". Bennett menuduh Turki mendukung Iran dan membiayai kelompok-kelompok yang diklasifikasikan sebagai organisasi teroris di Timur Tengah.
Bennett juga memperingatkan bahwa Turki dan Qatar sedang memperkuat jaringan dengan Ikhwanul Muslimin, dan bahwa Ankara berupaya membangun poros kekuatan Sunni yang berpotensi mengancam Israel. Selain itu, Bennett juga menyoroti potensi kerja sama antara Turki dan Pakistan, yang memiliki senjata nuklir dan sikap anti-Israel yang kuat.
Walaupun pernyataan Bennett ini belum tentu mencerminkan kebijakan resmi Israel, dan ada kemungkinan bahwa hubungan antara Israel dan Turki masih kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik.namun dengan pernyataan tersebut maka ambisi israel untuk menguasai timur tengah bisa terbaca dengan jelas.
Turki adalah salah satu negara Timur tengah yang mempunyai hubungan deplomatik dengan israel. Wilayah nya berbatasan langsung dengan eropa yang merupakan bekas kerajaan Ottoman yang punya peradapan sangar tinggi dan berkuasa ratusan tahun sebelum perang dunia pertama, meletus.
Bahkan salah satu Sultan Ottoman yakni Sultan Abdul Majid I dari Ottoman Turki pernah membantu Irlandia saat mengalami kelaparan besar pada tahun 1847. Saat itu, Sultan Abdul Majid I ingin memberikan bantuan sebesar 10.000 poundsterling, tetapi pemerintah Inggris membatasi jumlah bantuan tersebut karena Ratu Victoria hanya memberikan 2.000 poundsterling afar menyelamatkan muka Ratu Ingris saat itu. Akhirnya, Sultan Abdul Majid I mengirimkan 1.000 poundsterling dan tiga kapal penuh makanan ke Irlandia secara diam-diam yang nilai nya mencapai 10 ribu Ponsterling.
Bantuan ini sangat berarti bagi rakyat Irlandia, yang saat itu mengalami kelaparan besar akibat penyakit hawar kentang. Sultan Abdul Majid I bahkan mengirimkan kapal-kapal dengan bendera Ottoman ke pelabuhan Drogheda, yang kemudian menjadi simbol kemurahan hati Turki kepada Irlandia
Kisah ini masih diingat hingga hari ini, dan bahkan ada plakat peringatan di Drogheda yang berbunyi, "Kelaparan Besar Irlandia tahun 1847- Untuk mengenang dan mengakui kemurahan hati Rakyat Turki terhadap Rakyat Irlandia. Apabila benar setelah Iran akan jadi target selanjut nya adalah Turki, maka Eropa pun akan terbelah dalam organisasi NATO, karena Turki adalah anggauta NATO dan kebaikan Turki saat 1847 di Irlandia akan menjadi moment Eropa melawan hegemoni Amerika Serikat, dan Israel yang tanda tanda nya sudah bisa dilihat saat ini.
Sejarah Tanah Perjanjian dan Greater Israel
"Greater Israel" atau "Eretz Yisrael HaShlema" dalam bahasa Ibrani, adalah konsep yang merujuk pada wilayah Israel yang lebih luas daripada batas-batas negara Israel saat ini. Konsep ini berakar pada narasi biblikal dan ambisi Zionis awal, yang mengklaim bahwa wilayah Israel seharusnya mencakup area dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Euphrat di Irak.
Tujuan Utama
- Membangun negara Yahudi yang lebih besar dan kuat
- Mengamankan wilayah strategis untuk pertahanan
- Merealisasikan janji biblikal tentang tanah yang dijanjikan kepada bangsa Yahudi
Wilayah yang Diklaim
- Tepi Barat (West Bank)
- Jalur Gaza (Gaza Strip)
- Dataran Tinggi Golan (Golan Heights)
- Bagian dari Lebanon, Suriah, dan Yordania
- Beberapa wilayah di Mesir dan Irak
Kontroversi
- Konsep Greater Israel dipandang sebagai ancaman oleh negara-negara Arab dan Palestina
- Banyak yang menganggapnya sebagai upaya untuk menganeksasi wilayah Palestina dan mengganggu keseimbangan regional
Memang sesuai keyakinan dari bangsa Istael bahwa Tanah perjanjian yang diklaim Israel tertulis dalam Alkitab, khususnya dalam kitab Kejadian, Keluaran, dan Yosua. Beberapa ayat yang relevan adalah:
- Kejadian 12:7: "Lagi firman TUHAN kepadanya: 'Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu'".
- Kejadian 15:18-20: "Pada hari itu TUHAN membuat perjanjian dengan Abram, firman-Nya: 'Kepada keturunanmu Kuberikan negeri ini, dari sungai Mesir sampai ke sungai besar, sungai Efrat'".
- Keluaran 23:31: "Aku akan menetapkan batas-batasmu dari Laut Merah sampai ke Laut Filistin, dan dari padang gurun sampai ke sungai Efrat".
Batas-batas Tanah Perjanjian yang disebutkan dalam Alkitab adalah dari Sungai Mesir (Sungai Nil) hingga Sungai Efrat, yang mencakup wilayah Israel modern, termasuk Gaza dan Tepi Barat, serta bagian dari Mesir, Suriah, dan Yordania
Namun tanah yang diperjanjikan dalam Alkitab, khususnya dalam kitab Kejadian, Keluaran, dan Yosua, selama ribuan tahun telah diduduki oleh bangsa-bangsa lain ribuan tahun, termasuk Mesir, Palestina, Yordania, Irak, dan sebagian Turki. Hal ini merupakan salah satu titik kontroversi dalam konflik Israel-Palestina.
Fakta Sejarah
- Tanah Kanaan (Palestina) telah dihuni oleh berbagai bangsa, termasuk Kanaan, Filistin, dan Israel.
- Mesir telah menjadi pusat kekuasaan di wilayah tersebut selama ribuan tahun.
- Yordania dan Irak telah menjadi bagian dari berbagai kekaisaran, termasuk Kekaisaran Babilonia dan Kekaisaran Persia.
- Turki telah menjadi pusat kekuasaan Kekaisaran Ottoman selama beberapa abad.
Perspektif Hukum Internasional
- Hukum internasional mengakui hak-hak bangsa-bangsa yang telah menduduki suatu wilayah selama ribuan tahun.
- Deklarasi Kemerdekaan Palestina pada tahun 1988 dan pengakuan internasional terhadap Palestina sebagai negara merdeka pada tahun 2012 telah memperkuat hak-hak Palestina atas wilayah tersebut ¹.
Perspektif Sejarah
- Bahwa tanah tersebut telah berdiri kerajaan Mesir dan Kekaisaran Ottoman Turki Usmani, selama ratusan tahun, dan bangsa Persia yang hidup selama ribuan tahun sejak kejayaan Yunani kuno dan Romawi dan Kekaisaran Babilonia yang menguasai wilayah Irak selama ratusan tahun . Jadi alur sejarah nya jelas, tidak bisa begitu saja diambil paksa begitu saja, karena dalam perspektif sejarah tertulis secara runtun dan jelas.
Hal inilah yang mengakibatkan konflik Palestina Israel sulit untuk diselesaikan karena adanya keyakinan berdasarkan Kitab Suci dan situasi kondisi yang sudah berubah dan yang menibulkankan komplesitas Namun, perlu diingat bahwa konflik Israel-Palestina merupakan isu yang kompleks dan sensitif, dan tidak ada jawaban yang sederhana untuk menjawabnya karena faktir keyakinan agama tadi.
Setidak nya memberikan gambaran pemahaman pada kita semua bahwa konflik Palestina Israel bukan konflik dan perang agama tapi konflik wilayah pendudukan yang di justifikasi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa saat itu, sedangkan wilayah tersebut telah diduduki dan didiami bangsa Palestina selama ratusan bahkan ribuan tahun secara turun temurun, agar diri kita lebih bijak dan cerdas dalam menilai situasi. Jangan mau terprovokasi bahwa masalah kompleksitas ini semata mata kesalahan negara negara besar pemenang Perang Dunia ke dua , yang punya kepentingan
Yang pasti Keputusan Donald Trump menyerang Iran pada Februari 2026 kemungkinan besar dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kepentingan nasional AS, keamanan Israel, dan dinamika politik dalam negeri. Meskipun tidak ada bukti langsung tentang tekanan lobi Yahudi Amerika, beberapa faktor yang mungkin berperan termasuk:
- Keamanan Israel: Trump telah menyatakan dukungan kuat untuk Israel dan mungkin melihat serangan terhadap Iran sebagai cara untuk melindungi sekutu tersebut.
- Kepentingan Energi: Iran adalah pemain kunci di Timur Tengah, dan serangan AS dapat mempengaruhi harga minyak dan stabilitas regional.
- Politik Dalam Negeri: Trump mungkin berusaha menunjukkan kekuatan dan kepemimpinan AS di panggung internasional, terutama menjelankan pemilihan presiden 2024.
Lobi Yahudi Amerika, seperti AIPAC, memiliki pengaruh signifikan dalam politik AS, tetapi sulit dibuktikan publik sejauh mana mereka mempengaruhi keputusan Trump secara spesifik yang pasti sangat kuat pengaruh mereka dalam politik Amerika Serikat
Sementara beberapa pengamat dan politikus amerika serikat sendiri menuduh bahwa keputusan Donald Trump menyerang iran adalah untuk mengalihkan issu Epstein yang memojokan donald trump di dalam negeri Amerika serikat sendiri
Jika pernyataan Naftali Bennett tentang Turki benar dimana Israel dan Amerika Serikat menyerang Turki, setelah iran maka Badan Perdamaian (Board of Peace) yang dibentuk Donald Trump mungkin tidak efektif dalam mencapai tujuannya.
Board of Peace dibentuk untuk mempromosikan perdamaian dunia dan menyelesaikan konflik global, namun jika negara-negara besar seperti Iran, Israel, dan Amerika Serikat terlibat dalam konflik, maka badan ini tidak mungkin memiliki kekuatan untuk menghentikan kekerasan karena adanya konflik of interes didalam diri Amerika Serikat sendiri.
Beberapa negara, termasuk Indonesia, telah bergabung dengan Board of Peace, namun ada kekhawatiran bahwa badan ini mungkin tidak memiliki otoritas yang cukup untuk mempengaruhi keputusan negara-negara besar
Dalam situasi ini, relevansi Board of Peace mungkin dipertanyakan, dan ada kemungkinan bahwa badan ini hanya menjadi taktik politik untuk meningkatkan citra Donald Trump. Namun, perlu diingat bahwa keputusan untuk menyerang Turki belum tentu terjadi, namun perlu diwaspadai.
Bahwa melihat fenomena tersebut maka kajian strategis yang dikemukakan oleh prof Jian Xueqin dari China bahwa pada akhir nya seluruh negara islam akan bersatu baik di timur tengah maupun dibelahan bumi timur lainya maka akan terbukti dan merupakan akhir dari dominasi Amerika Serikat di panggung dunia di tangan presiden Donald Trump, dan terjadi perang Armagedon sebelum terbit nya jaman baru sistem dab kondisi baru di dunia ini sesuai siklus kejayaan setiap bangsa setiap 200 tahunan.
Penulis adalah pemerhati sosial dan politik serta sejarah.



Posting Komentar