166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Perang Asimetris Antara Iran Melawan Amerika Serikat dan Israel dan Ancaman Resesi Global

Oleh : Agus Widjajanto 

Retorika.spaceProf Jiang Xueqin dari china seorang ahli pengamat geo politik global , meramalkan Amerika Serikat akan kalah perang melawan Iran. 

Prof Jiang Xueqin pernah membuat prediksi analisis Geo politik yang sangat berani saat itu bahwa sebelum Amerika Serikat melakukan prmilihan umum , prof jian meramalkan Bahwa Donald Trump akan menang dalam pemilihan presiden, dan setelah jadi presiden kemungkinan Amerika Serikat akan masuk ke konflik dengan Iran karena loby dari kekuatan politik yang dikendalikan tokoh tokoh politik keturunan yahudi di amerika sangat kuat. 

Dalam perang melawan iran kali ini , prof Jian Xueqin menyatakan Amerika Serikat memang mempunyai kekuatan militer besar dan terkuat di dunia dan modern akan tetapi strukture militer nya dirancang untuk menunjukan kekuatan besar dan melakukan operasi cepat. 

Akan tetapi dalam perang modern dan Asismetris keunggulan militer besar dan kuat tidak selalu menentukan kemenangan dimana iran telah menggunakan strategi perang panjang yang memanfaatkan jaringan sekutu regional nya baik Rusia, China, pakistan , Korea utara , dan negara negara moeslim yang bersimpati, serta melakukan serangan asimetris dan tekanan jalur energi Global seperti penutupan selat hormus. Strategi ini bisa menguras logistik , persenjataan dan dukungan politik dari dalam Amerika Serikat sendiri yang akan menyulitkan Presiden Doland Trump. 

Memang Profesor Jiang Xueqin, seorang ahli geopolitik dari Tiongkok, memprediksi bahwa Amerika Serikat akan kalah dalam perang melawan Iran. Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat AS tidak siap menghadapi perang ini, termasuk:

- Ketergantungan pada teknologi mahal: AS masih mengandalkan teknologi perang yang mahal dan kompleks, sedangkan Iran menggunakan strategi perang asimetris dengan biaya yang lebih rendah.

- Ketidakseimbangan biaya: AS harus mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk menghadapi serangan Iran, sedangkan Iran dapat menggunakan drone dan senjata berbiaya rendah untuk menyerang AS.

- Keterbatasan dukungan publik: AS menghadapi kesulitan dalam mendapatkan dukungan publik untuk berperang dengan Iran, terutama setelah pengalaman perang di Irak dan Afghanistan.

- Ketergantungan pada petrodolar: AS sangat bergantung pada petrodolar, dan Iran dapat mengancam pasokan minyak global untuk melemahkan ekonomi AS.

Jiang juga memprediksi bahwa Iran akan menggunakan strategi "perang panjang" untuk melemahkan AS, dengan menyerang infrastruktur vital dan menggunakan jaringan proksi untuk memperluas tekanan terhadap AS dan sekutunya

Perang ukraina dimana Rusia dengan kekuatan besar nya dan Perang Vietnam adalah contoh klasik bagaimana kekuatan militer besar dan modern bisa kalah dalam menghadapi perang asimetris dan proksi. Beberapa faktor yang menyebabkan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam adalah:

- Taktik Gerilya: Viet Cong dan Tentara Rakyat Vietnam Utara menggunakan taktik gerilya yang efektif, seperti serangan mendadak, sabotase, dan penyergapan, untuk mengalahkan pasukan Amerika Serikat.

- Dukungan Rakyat: Viet Cong memiliki dukungan kuat dari rakyat Vietnam, yang membuatnya sulit bagi Amerika Serikat untuk membedakan antara musuh dan warga sipil.

- Medan Perang: Vietnam memiliki medan perang yang sulit, dengan hutan lebat dan terowongan bawah tanah, yang membuat pasukan Amerika Serikat kesulitan untuk beroperasi.

- Keterlibatan Politik: Perang Vietnam menjadi isu politik yang sangat kontroversial di Amerika Serikat, dengan banyak warga Amerika yang menentang perang tersebut.

Perang Vietnam menunjukkan bahwa kekuatan militer besar dan modern tidak selalu menjamin kemenangan, dan bahwa taktik gerilya dan dukungan rakyat dapat menjadi faktor penentu dalam perang asimetris

Situasi perang Ukraina dan khususnya Situasi perang Vietnam dan konflik Iran-Amerika Serikat memang memiliki beberapa kesamaan, terutama dalam hal kurangnya dukungan publik dan kongres untuk tindakan militer. Pada tahun 2026, Amerika Serikat menyerang Iran tanpa persetujuan kongres, yang memicu protes dan penentangan dari rakyat Amerika.

Beberapa kesamaan antara perang Vietnam dan konflik Iran-Amerika Serikat adalah ¹ ²:

- Kurangnya Dukungan Publik: Seperti pada perang Vietnam, mayoritas rakyat Amerika (70%) menentang keputusan Presiden Trump untuk menyerang Iran.

- Tindakan Milter Tanpa Persetujuan Kongres: Presiden Trump mengambil tindakan militer tanpa persetujuan kongres, yang memicu perdebatan tentang kekuasaan presiden dalam urusan luar negeri.

- Konflik yang Berlarut-larut: Konflik Iran-Amerika Serikat memiliki potensi untuk berlarut-larut, seperti perang Vietnam, dan dapat mempengaruhi stabilitas regional dan global.

Namun, ada juga perbedaan signifikan antara kedua konflik tersebut, seperti:

- Latar Belakang Konflik: Perang Vietnam adalah konflik antara Amerika Serikat dan Vietnam Utara, sedangkan konflik Iran-Amerika Serikat terkait dengan program nuklir Iran dan ketegangan regional.

- Teknologi dan Strategi: Teknologi dan strategi yang digunakan dalam konflik Iran-Amerika Serikat lebih canggih dan kompleks dibandingkan dengan perang Vietnam.

Perang panjang yang menguras energi sunver daya amerika serikat yang pada akhir nya akan merubah keseimbangan kekuatan Global dan jika skenario ini terjadi dampak nya bukan hanya di timur tengah saja, 

Prof Jian Xueqin memprediksi situasi ini akan mempercepat perubahan dunia yang lebih Multipolar, dimana kekuatan Global tidak lagi di dominasi satu negara saja, tapi terpecah China bersama sekutunya dalam BRiC .

BRIC (Brasil, Rusia, India, Cina, dan sekarang Afrika Selatan) bisa menjadi kekuatan baru dunia karena beberapa alasan. 

Beberapa faktor yang membuat BRIC berpotensi menjadi kekuatan baru dunia adalah:

- Ekonomi yang tumbuh pesat: Negara-negara BRIC memiliki ekonomi yang tumbuh pesat dan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global.

Dengan situasi Geo Politik dikawasan timur tengah karena serangan amerika serikat dan israel terhadap iran hingga terbunuh nya pemimpin tertinggi iran, maka keberadaan Board of Peace (BOP) memang menghadapi tantangan besar, terutama setelah Amerika Serikat sebagai penggagas ide BOP menyerang Iran secara sepihak, yang membuat situasi geopolitik Timur Tengah semakin tidak stabil. Ini bisa membahayakan misi BOP itu sendiri.

Beberapa kekhawatiran tentang BOP adalah:

- Bukan badan resmi internasional: BOP tidak memiliki status resmi sebagai badan internasional, sehingga kekuatannya terbatas.

- Jaminan keamanan pasukan TNI: Pengiriman pasukan TNI ke Gaza berisiko besar tanpa jaminan keamanan yang kuat.

- Stabilitas geopolitik: Serangan AS ke Iran membuat situasi Timur Tengah tidak stabil, yang bisa mempengaruhi misi BOP.

Namun, beberapa pihak melihat BOP sebagai upaya positif untuk menciptakan perdamaian di Gaza. Resolusi DK PBB 2803 yang melahirkan BOP menekankan pentingnya deradikalisasi di Gaza dan menghentikan aksi saling serang antara Hamas dan Israel

Dalam situasi ini, penting bagi Indonesia untuk mempertimbangkan kembali keterlibatannya dalam BOPq.

Pertanyaan kritis yang harus dijawab adalah Apakah anggota BOP, termasuk Indonesia, sudah diberitahu tentang rencana serangan AS ke Iran? Ini pertanyaan yang penting, karena jika tidak, maka misi BOP bisa terancam oleh kepentingan tersembunyi.

Belum ada informasi resmi tentang apakah anggota BOP sudah diberitahu tentang rencana serangan AS ke Iran. Namun, beberapa analis politik mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas BOP, mengingat struktur organisasi yang memberikan kekuasaan besar kepada Donald Trump sebagai ketua.

Beberapa kekhawatiran tentang BOP adalah:

- Kekuasaan Ketua: Donald Trump memiliki kekuasaan eksklusif untuk membuat keputusan, memodifikasi, atau membubarkan entitas anak perusahaan BOP.

- Biaya Keanggotaan: Negara-negara anggota harus membayar US$ 1 miliar untuk menjadi anggota tetap BOP.

- *Keterlibatan Indonesia*: Indonesia telah bergabung dengan BOP, tetapi beberapa pihak mempertanyakan apakah keputusan ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

Jika Amerika Serikat memang memiliki rencana serangan ke Iran, maka misi BOP bisa terpengaruh. BOP harus memastikan bahwa semua anggota memiliki komitmen yang sama untuk mencapai perdamaian dan tidak ada kepentingan tersembunyi yang mengganggu misi tersebut.

Presiden Prabowo Subianto memang sedang menghadapi tantangan besar dalam mengelola situasi geopolitik global, terutama terkait konflik Iran-Amerika Serikat. Baru-baru ini, ia menggelar diskusi dengan tokoh nasional untuk membahas dampak perang Iran terhadap stabilitas dan ekonomi dunia.

Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo menekankan pentingnya dialog dan kebersamaan dalam menghadapi tantangan global. Ia juga meminta saran dan masukan dari para tokoh nasional untuk menangani situasi ini.

Beberapa isu yang dibahas dalam pertemuan itu antara lain:

- Dampak ekonomi: Perang Iran-Amerika Serikat dapat mempengaruhi harga minyak dan gas, serta mengganggu rantai pasokan global.

- Keamanan nasional: Konflik ini dapat memperlemah posisi Indonesia di panggung internasional.

- Board of Peace (BoP): Presiden Prabowo juga membahas tentang BoP dan bagaimana perkembangannya dapat mempengaruhi situasi global.

Presiden Prabowo perlu menjaga keseimbangan antara peran internasional dan penanganan isu domestik. Indonesia perlu fokus pada penguatan ekonomi dan keamanan nasional untuk menghadapi tantangan global ini. Dengan kuat nya ekonomi nasional terjadi keseimbangan dalam neraca perdagangan dan kepentingan ekonomi dengan negara besar dan membangun kekuatan militer berkelas global serta kuat nya deplomasi pada kancah International, Baru posisi Indonesia bisa disegani dan bisa jadi penengah dalam konflik Iran melawan Amerika Serikat dan israel yang sangat kompleksitas , tanpa kedudukan sejajar seperti yang dikatakan Jusuf Kalla , maka sangat sulit untuk jadi penengah dalam konflik Global yang sarat kepentingan politik dari negara Adi Daya seperti amerika serikat

Seperti kita ketahui bersama Komandan Hamas di Jalur Gaza memang tidak menjamin keamanan pasukan yang akan dikirim ke Gaza dalam misi Board of Peace (BOP). Hamas telah menyatakan bahwa mereka ingin pasukan penjaga perdamaian yang memantau gencatan senjata dan bertindak sebagai penyangga antara tentara pendudukan dan rakyat Gaza, tanpa mencampuri urusan internal Gaza.

Hamas juga menolak rencana pengawasan internasional dan ingin memastikan bahwa pasukan internasional berfungsi sebagai penjaga perdamaian dengan persetujuan semua pihak, bukan harus berkonfrontasi dengan pasukan Hamas. Ini menunjukkan bahwa ada kekhawatiran tentang keamanan pasukan yang akan dikirim ke Gaza.

Indonesia, yang ditunjuk sebagai wakil komandan pasukan stabilisasi internasional, telah menyatakan kesiapan untuk mengirimkan 8.000 prajurit ke Gaza, tetapi keputusan ini masih menunggu persetujuan dari Presiden Prabowo dan perlu dipertimbangkan kembali matang matang

Penulis adalah pemerhati masalah Geo politik dan Geo Strategis kawasan serta sejarah bangsa nya.
 

Posting Komentar

Posting Komentar