166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Aloka Simbol Perdamian, Perjalanan Panjang Para Biksu dari Texas ke Washington DC

Oleh : Agus Widjajanto 

Jakarta, retorika.space~Aloka adalah nama seekor anjing yang mengalami kecelakaan dan dirawat oleh seorang biksu Budha, yang lalu mengadopsi nya diberikan kasih sayang, dan di ajak keliling dunia, dengan cara berjalan kaki, menyuarakan perdamaian Dunia (Walk for Peace). Aloka menadi viral dan tranding di dunia maya, setelah berjalan bersama sembilan belas biksu Budha berjalan kaki untuk perdamaian (Walk For Peace) dari kota Texas menujubWashington D.C. pada 26 oktober 2025. 

Para biksu budha bersama Aloka anjing kesayangan biksu berjalan setiap hari rata rata 20 hingga 30 Mil dengan tujuan mempromosikan perdamaian dan kasih sayang serta welas asih atas sesama dan Alam semesta. Aloka anjing yang ikut berjalan kali menjadi simbol kesetiaan bagi dunia dalam memberikan introspeksi kepada kita semua, agar diri kita lebih mempunyai rasa kesetiaan dan kasih welas asih kepada sesama dan alam semesta. 

Harus nya Para pemimpin dunia memang harus mendahulukan rasa kemanusiaan dan kesadaran bahwa kita semua hidup di planet bumi yang sama, di bawah langit yang sama. Gerakan perdamaian yang dilakukan para biksu Buddha dari Texas ke Washington DC, Amerika Serikat, dengan membawa anjing Aloka sebagai simbol perdamaian, adalah contoh yang sangat inspiratif.

Perjalanan kaki yang panjang dan melelahkan itu menunjukkan komitmen dan dedikasi para biksu untuk menyebarkan pesan perdamaian dan harmoni. Anjing Aloka menjadi simbol yang kuat untuk perdamaian, karena anjing dikenal sebagai hewan yang setia, lembut, dan penuh kasih sayang.

Jika para pemimpin dunia dapat mengikuti contoh para biksu Buddha ini, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih damai dan harmonis. Kita semua harus bekerja sama untuk menciptakan dunia yang lebih baik, di mana setiap individu dapat hidup dengan damai, aman, dan sejahtera.

Anjing memang dikenal sebagai hewan yang sangat cerdas dan setia. Mereka memiliki kemampuan untuk memahami dan mengikuti perintah, serta memiliki loyalitas yang sangat tinggi kepada pemiliknya.

Anjing juga memiliki kemampuan untuk merasakan emosi dan kebutuhan manusia, sehingga mereka sering digunakan sebagai terapi untuk membantu orang-orang yang mengalami kesulitan emosional atau fisik.

Kecerdasan dan kesetiaan anjing membuat mereka menjadi hewan yang sangat populer sebagai teman dan sahabat manusia. Mereka juga sering digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti pencarian dan penyelaraan, kepolisian, dan bahkan sebagai asisten bagi orang-orang dengan kebutuhan khusus.

Anjing memang hewan yang luar biasa, dan kita semua dapat belajar banyak dari sifat-sifat mereka yang positif

Kisah Ashabul Kahfi dalam Alquran (Surah Al-Kahfi, ayat 9-26) memang menceritakan tentang sekelompok pemuda yang bersembunyi di dalam gua bersama dengan anjing mereka, dan mereka tertidur selama 300 tahun.

Kisah ini menunjukkan bahwa anjing adalah hewan yang sangat setia kepada tuannya, karena anjing tersebut tetap setia menjaga dan menemani Ashabul Kahfi selama mereka tertidur di dalam gua.

Dalam Alquran, Allah SWT juga menyebutkan bahwa anjing tersebut adalah contoh kesetiaan dan ketaatan kepada tuannya (Surah Al-Kahfi, ayat 18). Kisah ini menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang pentingnya kesetiaan dan ketaatan, serta menunjukkan bahwa anjing adalah hewan yang sangat setia dan dapat dipercaya.

Kisah Ashabul Kahfi dan anjingnya juga menjadi salah satu contoh tentang bagaimana Allah SWT dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dan ajaib, serta menunjukkan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.

Kisah Ashabul Kahfi dan anjingnya memang menjadi contoh yang sangat baik tentang pentingnya kesetiaan dalam hidup. Manusia dapat belajar dari kesetiaan anjing tersebut dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesetiaan adalah salah satu nilai yang paling penting dalam hidup, karena dapat membantu kita membangun hubungan yang kuat dan langgeng dengan orang lain, serta meningkatkan kepercayaan diri dan integritas kita.

Dengan memiliki kesetiaan, kita dapat menjadi lebih dapat dipercaya, lebih setia kepada tujuan dan nilai-nilai kita, serta lebih mampu menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hidup.

Kisah Ashabul Kahfi dan anjingnya memang menjadi pengingatan bagi kita bahwa kesetiaan adalah hal yang sangat penting, dan bahwa kita harus berusaha untuk menjadi lebih setia dalam hidup kita. 

Para biksu budha mengajarkan tindakan kemanusiaan yang penuh kasih sayang, dimana menjurus kepada Ajaran Sanatha Dharma. 

Tindakan Sanatha Dharma adalah tindakan yang dilakukan dengan niat baik, tulus, dan tanpa pamrih, untuk memberikan manfaat bagi orang lain dan masyarakat. Sanatha Dharma adalah konsep dalam agama Hindu yang berarti "pelayanan yang sejati" atau "kewajiban suci".

Tindakan Sanatha Dharma dapat berupa:

- Membantu orang lain yang membutuhkan

- Berbagi pengetahuan dan pengalaman

- Memberikan dukungan dan motivasi

- Melakukan pekerjaan sosial dan kemanusiaan

- Menghormati dan melayani orang lain dengan tulus

Tujuan dari tindakan Sanatha Dharma adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mempromosikan harmoni dan kedamaian, serta mencapai kesempurnaan spiritual.

Banyak kasus justru pada diri manusia kerap terjadi kesetiaan adalah harta paling mahal dan jarang dilakukan oleh manusia yang merupakan mahluk yang paling utama di muka bumi dan diciptakan sebagai pemimpin alam semesta yang dikaruniai hati dan kecerdasan pikiran serta kemampuan beradaptasi serta pengendalian diri secara emosional, namun banyak kasus justru kalah dengan seekor anjing yang kesetiaan nya adalah mutlak bagibtuan nya yang telah memberikan makan dan tempat tinggal. Hal ini seharus nya kita sadar bahwa kita sebagai manusia secara akhlag lebih baik dari pada hewan, karena dibekali iman dan ajaran agama apapun agama nya, yang bisa dijadikan introspeksi diri bagi kita bersama

Apabila timbul kesadaran kolektif maka tidak akan timbul peperangan di dunia, namun kerap kepentingan politik, dalam perebutan diminasi baik kekuasaan dunia maupun sumber daya alam, kepentingan politik mengalahkan pola pikir rasional sekalipun, dan mematikan hati nurani dan kesetiaan serta kasih sayang sebagai mahluk sosial. 

Penulis adalah pemerhati sosial budaya

Posting Komentar

Posting Komentar