166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Awal dan Akhir Alam Semesta, Dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan dan Agama Agama Besar

Oleh : Agus Widjajanto 

Jakarta, retorika.space~Fenomena akhir akhir ini memberikan gambaran bahwa seolah Dunia ini beserta Semesta yang ada baik dalam Galaksi Bima Sakti yang merupakan satu dari milyartan galaksi yang ada di Alam Semesta seolah tiada akhir, dimana umat manusia telah melakukan kerusakan alam yang begitu berat nya hingga menciptakan bencana baik banjir bandang, tanah longsor, perubahan iklim Global, melalui Ilagal Loging maupun ilegal mining, belum lagi menciptakan perang demi kepentingan politik dan menguasai sumber daya alam negara lain. 

Seolah olah Alam Semesta ini tiada yang punya bebas untuk diperebutkan dengan hukum rimba siapa kuat dialah yang menang. 

Banyak dalam tayangan media sosial menggambarkan secara singkat bagaimana alam semesta ini bekerja dan apakah alam ini dikendalikan melalui pusat kendali dititik tertentu dan apabila dikaitkan hukum alam dimana segala sesuatu jika ada awal tentu ada akhir dan dalam hal ini alam semesta akan berahir dan kapan terjadi? 

Bahwa Alam semesta tidak memiliki pusat yang spesifik. Menurut teori Big Bang, alam semesta mulai mengembang dari keadaan yang sangat panas dan padat sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Pengembangannya tidak terjadi dari satu titik pusat, melainkan dari semua titik di alam semesta. Ini berarti bahwa setiap titik di alam semesta dapat dianggap sebagai pusat, karena semua titik bergerak menjauh dari satu sama lain.

Bayangkan alam semesta seperti permukaan balon yang mengembang. Jika kamu menggambar titik-titik di permukaan balon, maka ketika balon mengembang, semua titik akan bergerak menjauh dari satu sama lain. Tidak ada satu titik pun yang dapat dianggap sebagai pusat balon 

Dalam skala galaksi, galaksi-galaksi juga bergerak menjauh dari satu sama lain, tetapi mereka juga terikat oleh gravitasi dalam gugus galaksi dan supergugus. Jadi, meskipun alam semesta tidak memiliki pusat, ada struktur-struktur besar yang terbentuk melalui interaksi gravitasi antara galaksi-galaksi

Teori gravitasi yang paling terkenal adalah Teori Relativitas Umum Einstein, yang menyatakan bahwa gravitasi bukanlah gaya tarik-menarik antara benda, melainkan akibat kelengkungan ruang-waktu yang disebabkan oleh massa dan energi. Bayangkan ruang-waktu sebagai kain elastis yang ditarik oleh benda-benda besar, sehingga menciptakan lekukan yang mempengaruhi pergerakan benda lain.

Sementara itu, Nikola Tesla memiliki pandangan unik tentang alam semesta, yaitu bahwa alam semesta adalah kumpulan cahaya. Tesla percaya bahwa cahaya adalah bentuk energi yang paling dasar dan bahwa semua materi dapat diubah menjadi cahaya. Ia juga percaya bahwa angka-angka 3, 6, dan 9 memiliki kekuatan spiritual dan bahwa mereka terkait dengan struktur dasar alam semesta.

Dalam konteks teori gravitasi, pandangan Tesla tentang cahaya sebagai bentuk energi dasar dapat dihubungkan dengan konsep foton, yaitu partikel cahaya yang memiliki massa dan energi. Namun, perlu diingat bahwa pandangan Tesla lebih bersifat filosofis dan tidak secara langsung terkait dengan teori gravitasi Einstein.

Kaitan antara Teori Gravitasi dan Pandangan Tesla

- Gravitasi sebagai kelengkungan ruang-waktu

- Cahaya sebagai bentuk energi dasar

- Angka-angka 3, 6, dan 9 sebagai struktur dasar alam semesta

Namun, perlu diingat bahwa pandangan Tesla lebih bersifat spekulatif dan tidak secara langsung terkait dengan teori gravitasi Einstein. Teori gravitasi Einstein telah terbukti secara eksperimental dan menjadi dasar bagi pemahaman kita tentang alam semesta

Teori Big Bang menjelaskan bahwa alam semesta memiliki awal, yaitu sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, ketika terjadi ledakan besar yang menyebabkan ekspansi ruang. Namun, apakah alam semesta memiliki akhir?

Beberapa teori memprediksi kemungkinan akhir alam semesta, antara lain:

- Big Crunch: Alam semesta akan berhenti mengembang dan kemudian runtuh kembali ke titik singularitas, seperti kebalikan dari Big Bang.

- Big Freeze: Alam semesta akan terus mengembang dan mendingin, sehingga suhu menjadi sangat rendah dan tidak ada lagi proses fisika yang terjadi.

- Big Rip: Alam semesta akan terus mengembang dengan kecepatan yang semakin cepat, sehingga akhirnya semua struktur akan terkoyak.

- Kematian Panas: Alam semesta akan mencapai keadaan entropi maksimum, sehingga tidak ada lagi energi yang tersedia untuk melakukan proses fisika.

Namun, perlu diingat bahwa teori-teori ini masih dalam tahap penelitian dan belum ada kepastian tentang akhir alam semesta.

Sementara itu, planet Bumi diperkirakan akan memiliki akhir sekitar 5 miliar tahun dari sekarang, ketika Matahari kehabisan bahan bakar hidrogen dan menjadi bintang raksasa merah, sehingga akan menelan Bumi

Menurut teori evolusi, mahluk hidup di Bumi telah mengalami perubahan dan adaptasi selama miliaran tahun. Namun, ketika Bumi mendekati akhir hidupnya, sekitar 5 miliar tahun dari sekarang, kemungkinan besar mahluk hidup dan manusia tidak akan bertahan.

Beberapa alasan yang mendukung kemungkinan ini adalah:

- Perubahan iklim: Bumi akan mengalami perubahan iklim yang ekstrem, termasuk peningkatan suhu dan radiasi ultraviolet, yang akan membuat lingkungan menjadi tidak layak huni bagi mahluk hidup.

- Kematian Matahari: Ketika Matahari kehabisan bahan bakar hidrogen, ia akan menjadi bintang raksasa merah, sehingga akan menelan Bumi dan membuatnya tidak layak huni.

- Kehilangan atmosfer: Bumi akan kehilangan atmosfernya karena peningkatan suhu dan radiasi, sehingga membuat mahluk hidup tidak dapat bernapas.

Namun, ada beberapa kemungkinan bahwa mahluk hidup dan manusia dapat bertahan, seperti:

- Migrasi ke planet lain: Jika teknologi manusia memungkinkan, kita dapat bermigrasi ke planet lain yang lebih layak huni.

- Evolusi adaptasi: Mahluk hidup dapat berevolusi untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah, sehingga dapat bertahan di Bumi.

- Teknologi canggih: Manusia dapat mengembangkan teknologi canggih untuk melindungi diri dari perubahan iklim dan radiasi, sehingga dapat bertahan di Bumi.

Namun, perlu diingat bahwa kemungkinan-kemungkinan ini masih dalam tahap spekulasi dan belum ada kepastian tentang masa depan Bumi dan mahluk hidup.

Bagaimana apabila dikaitkan masa berahir nya Alam Semesta dengan Ajaran dan dogma agama agama besar yang menerangkan tentang akhir Dunia beserta isi nya bersama Alam semesta sesuai Ilmu pengetahuan diatas 

Dalam perspektif agama, akhir dunia atau kiamat memiliki konsep yang berbeda-beda, namun banyak yang memiliki kesamaan dengan teori Big Bang dan evolusi. Berikut adalah beberapa contoh:

- Kristen: Dalam Alkitab, akhir dunia digambarkan sebagai "Hari Penghakiman" atau "Akhir Zaman", di mana Tuhan akan mengakhiri dunia dan menghakimi manusia. Konsep ini memiliki kesamaan dengan teori Big Crunch, di mana alam semesta akan runtuh kembali ke titik singularitas.

- Budha: Dalam agama Budha, akhir dunia disebut "Maha Pralaya", di mana alam semesta akan hancur dan kemudian lahir kembali dalam siklus yang berulang. Konsep ini memiliki kesamaan dengan teori Big Bang, di mana alam semesta memiliki awal dan akhir, namun juga memiliki siklus yang berulang.

- Islam: Dalam Al-Qur'an, akhir dunia disebut "Kiamat", di mana Tuhan akan mengakhiri dunia dan menghakimi manusia. Konsep ini memiliki kesamaan dengan teori Big Crunch, di mana alam semesta akan runtuh kembali ke titik singularitas.

Dalam ilmu pengetahuan, teori Big Bang dan evolusi menjelaskan bahwa alam semesta memiliki awal dan akhir, namun tidak ada kepastian tentang apa yang akan terjadi setelah itu. Beberapa teori memprediksi bahwa alam semesta akan terus mengembang dan mendingin, sementara yang lain memprediksi bahwa alam semesta akan runtuh kembali ke titik singularitas.

Dalam perspektif agama, akhir dunia atau kiamat memiliki makna spiritual dan filosofis, di mana manusia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi akhir zaman dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara itu, ilmu pengetahuan menjelaskan proses alam semesta secara ilmiah dan empiris, tanpa memasukkan konsep spiritual atau filosofis.

Berikut adalah beberapa kesamaan antara perspektif agama dan ilmu pengetahuan:

- Awal dan akhir: Alam semesta memiliki awal dan akhir, baik dalam perspektif agama maupun ilmu pengetahuan.

- Siklus: Alam semesta memiliki siklus yang berulang, baik dalam perspektif agama (Maha Pralaya) maupun ilmu pengetahuan (Big Bang dan Big Crunch).

- Perubahan: Alam semesta terus berubah dan berevolusi, baik dalam perspektif agama (Kiamat) maupun ilmu pengetahuan (evolusi).

Namun, perlu diingat bahwa perspektif agama dan ilmu pengetahuan memiliki pendekatan yang berbeda dalam menjelaskan akhir dunia atau kiamat. Perspektif agama lebih fokus pada makna spiritual dan filosofis, sementara ilmu pengetahuan lebih fokus pada penjelasan ilmiah dan empiris

Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya

0

Posting Komentar