Jakarta, retorika.space~Bahwa pada setiap ajaran Dogma pada setiap agama baik dari agama samawi (Kristen, Yahudi, Islam) maupun agama dari Hindustan India (Hindu dan Budha) serta kepercayaan baik dari tiongkok konghucu maupun dari tanah jawa yang mempunyai puluhan aliran kebatinan jawa, selalu menekan kan rasa syukur atau menerima keadaan apa yang ada untuk dinikmati di jalani dan disyukuri. Namun dalam ajaran dogma tertulis dari agama agama besar juga diajarkan agar diri ini meminta memohon kepada Tuhan dan semesta . Yang jadi pertanyaan atas kontradiksi hal tersebut, apa dan bagaimana sesungguhnya Semesta yang merupakan Energi Ketuhanan secara Makro Cosmos, merespon energi kita atas doa dan permintaan tersebut ditinjau dari perspektif ilmu makrifatullah (ilmu kebatinan)
Banyak agama agama besar baik samawi maupun hindustan mengajarkan bersyukur dan meminta pada semesta (atau Tuhan), tapi sebenarnya:
- Rasa Bersyukur Sendiri Menarik Berkat: energi vibrasi rasa syukur sudah cukup menarik berkat, tanpa perlu meminta.
- Meminta Bisa Mengindikasikan Kekurangan: meminta bisa menunjukkan fokus pada kekurangan, bukan kelabihan.
- Bersyukur Membuka Penerimaan: rasa syukur membuka hati untuk menerima berkat yang sudah ada.
Jadi, fokus pada rasa syukur saja sudah bisa menarik berkat, tanpa perlu meminta. Semesta merespon energi positif kita.
Menilik dari konsep kebatinan jawa, soal tasawuf dimana Konsep tasawuf Jawa Raden Ngabehi Ronggowarsito tentang rasa syukur dan vibrasi energi semesta berpusat pada Manunggaling Kawula Gusti, yaitu kesatuan antara manusia dan Tuhan. Dalam Wirid Hidayat Jati Ronggowarsito mengajarkan bahwa manusia bisa menyatu dengan Tuhan ketika mencapai tingkat makrifat yaitu kesadaran spiritual tertinggi.
Rasa syukur dalam konteks ini berarti mengakui dan menghargai nikmat dari Tuhan, yang kemudian memancarkan energi positif ke semesta. Energi ini, menurut hukum tarik-menarik (Law of Attraction), akan menarik lebih banyak kebahagiaan dan keberlimpahan ke dalam hidup.
Koneksi dengan Vibrasi Energi Semesta
- Rasa syukur meningkatkan frekuensi vibrasi energi, membuatnya selaras dengan semesta.
- Semesta merespons dengan memberikan lebih banyak nikmat dan keberlimpahan.
- Kesadaran spiritual (makrifat) memperkuat hubungan ini, memungkinkan manusia merasakan kesatuan dengan Tuhan.
Dengan demikian, konsep Ronggowarsito menekankan pentingnya rasa syukur sebagai kunci membuka pintu semesta untuk berkat lebih besar.
Sedangkan sesungguh nya yang terjadi Semesta merespon energi dan vibrasi rasa bersyukur karena:
- Hukum Tarik Menarik (Law of Attraction): energi positif seperti rasa bersyukur menarik energi positif lain, menciptakan siklus berkat.
- Getaran Frekuensi Tinggi: rasa bersyukur memiliki frekuensi tinggi, sesuai dengan getaran semesta yang positif.
- Pikiran dan Emosi Positif: rasa bersyukur memperkuat pikiran dan emosi positif, membuka pintu untuk peluang dan berkat.
Dengan fokus pada rasa bersyukur, kita:
- Mengubah Perspektif: melihat hal positif dalam situasi.
- Meningkatkan Energi Positif: memperkuat getaran positif.
- Membuka Jalan Berkat: menarik berkat dan peluang lebih besar.
Konsep Ronggowarsito tentang berusaha dan berdoa dalam tasawuf Jawa:
- Usaha (Ikhtiar): penting sebagai tindakan nyata, tapi harus disertai kesadaran spiritual.
- Doa (Panyuwun): bukan meminta, tapi ekspresi rasa syukur dan kesadaran akan kehendak Tuhan.
- Manunggaling Kawula Gusti: kesatuan dengan Tuhan, usaha dan doa melebur dalam kesadaran spiritual.
Dalam Wirid Hidayat Jati Ronggowarsito menekankan:
- Laku Prihatin: pengendalian diri dan spiritual untuk mencapai kesadaran tinggi.
- Pangawikaning Diri: kesadaran diri dan Tuhan, usaha dan doa dalam kesadaran ini.
Jadi, berusaha dan berdoa dalam tasawuf Jawa Ronggowarsito lebih tentang kesadaran spiritual dan kesatuan dengan Tuhan
Al-Ghazali tentang doa meminta dan ikhtiar:
- Doa (Dua): penting sebagai ekspresi ketergantungan pada Tuhan, tapi harus disertai ikhtiar.
- Ikhtiar (Usaha): wajib, sebagai bagian dari takdir yang diberikan Tuhan.
- Tawakal: percaya pada hasil dari Tuhan setelah ikhtiar.
Dalam Ihya Ulumuddin Al-Ghazali menekankan:
- Keseimbangan Doa dan Ikhtiar: doa tanpa ikhtiar sia-sia, ikhtiar tanpa doa kurang berkah.
- Doa sebagai Penyempurna: doa memperkuat ikhtiar dan membuka jalan.
Jadi, Al-Ghazali menekankan keseimbangan antara doa dan ikhtiar, keduanya penting dalam mencapai tujuan
Dalam tasawuf, beberapa wali memiliki pendapat menarik tentang doa meminta pada Tuhan:
- Syekh Abdul Qadir Al-Jilani: doa meminta menunjukkan kesadaran akan kebutuhan dan ketergantungan pada Tuhan.
- Ibn Arabi: doa meminta adalah refleksi kesadaran diri dan kehendak Tuhan.
- Rumi: doa meminta membuka hati, tapi tujuan utama adalah mendekatkan diri pada Tuhan.
Beberapa wali menekankan
- Doa bukan untuk meminta: tapi untuk menyadari kehadiran Tuhan.
- Tawakal: percaya pada kehendak Tuhan, doa sebagai ekspresi cinta.
Pendapat wali-wali ini menekankan spiritualitas dan kesadaran dalam berdoa, bukan hanya meminta
Jadi, rasa bersyukur adalah kunci membuka pintu semesta untuk berkat lebih besar
Bahwa semesta ini tidak pernah mengajarkan meminta, tapi hanya perlu adanya vibrasi/energi positif rasa syukur bahwa sesungguhnya semesta dan Tuhan yang Esa tidak pernah butuh permintaan yang rumit, dan berulang ulang. Karena Semesta merespon energi rasa syukur bukan tuntutan lewat permintaan, ketika dirimu fokus pada rasa syukur atas apa yang sudah ada kamu miliki, maka secara otomatis akan terbuka pintu menerima lebih banyak berkat/ hal baik dalam hidupmu.
Bersyukur adalah bahasa universal untuk semua manusia di muka bumi, yang menghubungkan dengan aliran energi positif, bukan tentang seberapa keras kamu meminta, akan tetapi seberapa dalam kamu menghargai apa yang telah ada . Bukan dalam merasa kekurangan tetapi menerima apa yang ada dan itu adalah kunci untuk menerima lebih banyak berkat
Bahwa hidup bukan tentang terus menerus bertanya kapan atau bagaimana suatu akan terjadi, dimana sesungguhnya Tuhan dan Semesta tahu apa yang terbaik untuk mu dan setiap mahluk dan manusia di muka bumi, bahkan lebih baik dari yang kamu pikirkan dan bayangkan sesuai ekspektasi mu.
Bahwa rasa bersyukur menunjukan bahwa kamu percaya pada rencana yang lebih besar dan lebih indah jadi berhentilah mencari cara untuk meminta lebih yang justru akan menjadi manusia yang durhaka pada Tuhan dan semesta
Mulailah mekatih rasa syukur, setiap hari. Karena dengan rasa syukur dirimu tidak hanya menghormati hidupmu saat ini, tapi juga menciptakan ruang bagi semesta untuk memberikan yang terbaik untuk mu.
Jadi lah insan mahluk Tuhan yang cerdas agar bisa mengenal dirimu dan mengenal semesta dengan benar.
Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya



Posting Komentar