166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Geo Strategis dan Politis Global dan Strategi Pendiri Bangsa Mendesain Indonesia

Oleh : Agus Widjajanto

Retorika space - Sun Tzu dalam The Art of War telah dibaca jutaan orang baik dari kalangan militer maupun dari kalangan bisnisman serta politikus dan akademisi. Karya klasik ini tidak hanya dipahami sebagai panduan perang dalam arti sempit, tetapi juga sebagai kerangka berpikir strategis yang lintas zaman dan lintas disiplin. Seni perang Sun Tzu menekankan pentingnya memenangkan pertempuran tanpa peperangan, yaitu melalui kecerdikan, kalkulasi, dan penguasaan situasi. Beberapa strateginya antara lain:

- Mengenal musuh: Memahami kekuatan dan kelemahan musuh untuk menentukan strategi yang tepat, termasuk membaca motif, kepentingan, serta potensi langkah yang akan diambil lawan.

- Menggunakan taktik: Menggunakan taktik yang tidak terduga untuk mengalahkan musuh, sehingga menciptakan efek kejutan yang dapat melemahkan posisi lawan secara psikologis maupun strategis.

- Menghindari konfrontasi langsung: Menghindari konfrontasi langsung dengan musuh yang lebih kuat, dan mencari kelemahan mereka sebagai pintu masuk untuk meraih kemenangan yang efisien.

- Menggunakan diplomasi: Menggunakan diplomasi untuk memenangkan hati dan pikiran musuh, sehingga konflik dapat diredam tanpa eskalasi kekerasan.

- Menggunakan intelijen: Menggunakan intelijen untuk mengumpulkan informasi tentang musuh dan mengantisipasi gerakan mereka, sehingga setiap langkah didasarkan pada data, bukan asumsi.

Dalam konteks modern, strategi Sun Tzu dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang, seperti:

- Bisnis: Mengalahkan kompetitor tanpa harus melakukan perang harga, melainkan melalui inovasi, diferensiasi, dan penguasaan pasar.

- Politik: Memenangkan hati dan pikiran masyarakat tanpa harus menggunakan kekerasan, tetapi melalui narasi, legitimasi, dan kepercayaan publik.

- Keamanan: Mengantisipasi dan mencegah ancaman tanpa harus melakukan pertempuran, dengan pendekatan deteksi dini dan pencegahan strategis.

Strategi Sun Tzu masih relevan diterapkan dalam kasus China daratan dengan Taiwan, terutama dalam konteks kunjungan ketua oposisi Taiwan ke Beijing. Dinamika ini mencerminkan bagaimana strategi non-militer dapat menjadi instrumen utama dalam perebutan pengaruh. Beberapa prinsip Sun Tzu yang relevan adalah:

- Mengenal diri sendiri dan lawan: China harus memahami kekuatan dan kelemahan Taiwan, serta kekuatan dan kelemahan oposisi Taiwan, termasuk basis dukungan politiknya.

- Menggunakan taktik: China dapat menggunakan taktik untuk mempengaruhi opini publik Taiwan dan menciptakan ketidakstabilan yang terukur.

-;Menghindari konfrontasi langsung: China dapat menghindari konfrontasi langsung dengan Taiwan dan Amerika Serikat, dan mencari cara untuk mencapai tujuannya melalui diplomasi dan ekonomi.

- Menggunakan intelijen: China dapat menggunakan intelijen untuk mengumpulkan informasi tentang Taiwan dan AS, serta untuk mempengaruhi opini publik secara halus namun sistematis.

Dalam konteks kunjungan ketua oposisi Taiwan ke Beijing, China dapat menggunakan kesempatan ini untuk:

- Meningkatkan hubungan dengan oposisi Taiwan: China dapat menggunakan kunjungan ini untuk meningkatkan hubungan dengan oposisi Taiwan dan menciptakan ketidakstabilan di Taiwan.

- Menggunakan oposisi Taiwan sebagai alat: China dapat menggunakan oposisi Taiwan sebagai alat untuk mempengaruhi opini publik Taiwan dan menciptakan ketidakstabilan.

- Menguji reaksi AS: China dapat menggunakan kunjungan ini untuk menguji reaksi AS dan melihat bagaimana AS akan merespons dinamika yang berkembang di kawasan tersebut.

China daratan dengan Taiwan adalah satu rumpun yang dipisahkan oleh ideologi politik saat Sun Yat-sen mendirikan Taiwan sebagai wilayah kekuasaannya, sehingga perbedaan yang ada lebih bersifat politik daripada kultural. Dalam perspektif jangka panjang, politik penyatuan China tampaknya akan diarahkan untuk terwujud tanpa peperangan terbuka, melainkan melalui infiltrasi pengaruh, integrasi ekonomi, dan pendekatan psikologis, di tengah hegemoni Amerika Serikat yang sedang mengalami tekanan dalam berbagai front konflik global, termasuk dengan Iran.

China daratan dan Taiwan memang memiliki sejarah yang kompleks, dipisahkan oleh ideologi politik sejak Sun Yat-sen mendirikan Republik Tiongkok. Saat ini, China daratan dan Taiwan memiliki perbedaan ideologi yang signifikan, namun keduanya masih memiliki akar budaya dan sejarah yang sama yang sulit dipisahkan.

Politik jangka panjang China bersatu memang tampaknya menjadi tujuan yang ingin dicapai oleh Beijing, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Taiwan memiliki pemerintahan sendiri dan sistem demokrasi yang kuat, sehingga reunifikasi tidak akan mudah dicapai tanpa kesepakatan yang saling menguntungkan dan menjaga stabilitas kawasan.

Amerika Serikat juga memiliki peran penting dalam dinamika ini, dengan komitmennya untuk membantu Taiwan mempertahankan diri. Namun, AS juga berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan China, sehingga situasinya menjadi sangat kompleks, penuh kalkulasi, dan berlapis kepentingan.

Dalam beberapa tahun terakhir, China telah meningkatkan tekanan militer dan ekonomi terhadap Taiwan, namun Taiwan tetap menunjukkan keteguhan dan meningkatkan pertahanan diri. Kunjungan Ketua Kuomintang (KMT) Cheng Li-wen ke Beijing baru-baru ini juga menunjukkan adanya upaya untuk meningkatkan dialog dan kerja sama antara kedua belah pihak sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, dan situasi ini memerlukan penanganan yang hati-hati dan diplomatis untuk menghindari eskalasi konflik yang dapat berdampak global.

Teori The Art of War dari Sun Tzu masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kaitan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam tata kelola pemerintahan di era modern yang sarat dengan persaingan kepentingan.

Para pendiri bangsa Indonesia seperti Soepomo dan Soekarno memang terinspirasi oleh seni politik dan strategi perang ala Sun Tzu. Mereka memahami bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya tentang kekuatan militer, tapi juga tentang strategi, diplomasi, dan kecerdasan dalam membaca situasi global.

Soepomo, salah satu pendiri bangsa, dikenal sebagai ahli hukum dan politik yang cerdas. Ia mempelajari strategi perang Sun Tzu dan mengaplikasikannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan pendekatan konseptual terhadap bentuk negara.

Soekarno, sebagai presiden pertama Indonesia, juga dikenal sebagai pemimpin yang cerdas dan strategis. Ia menggunakan strategi "Trikontinental" untuk menghadapi kekuatan kolonial dan imperialis, serta memanfaatkan persaingan antara blok Barat dan Timur selama Perang Dingin sebagai ruang manuver politik Indonesia.

Beberapa prinsip Sun Tzu yang mungkin diadopsi oleh para pendiri bangsa Indonesia adalah:

1. Mengenal diri sendiri dan lawan: Memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan lawan untuk menentukan strategi yang tepat dalam perjuangan kemerdekaan.

2. Menggunakan taktik: Menggunakan taktik yang tidak terduga untuk mengalahkan lawan, termasuk melalui diplomasi internasional.

3. Menghindari konfrontasi langsung: Menghindari konfrontasi langsung dengan lawan yang lebih kuat, dan mencari kelemahan mereka melalui strategi politik.

Dengan menggunakan strategi dan taktik yang cerdas, para pendiri bangsa Indonesia berhasil mencapai kemerdekaan dan membangun negara yang kuat serta berdaulat di tengah tekanan global.

Di tengah derasnya pengaruh budaya dan doktrin politik liberal yang mengacu pada demokrasi ala Barat, kadang mencabut akar tata cara demokrasi yang sudah berurat berakar pada sebuah bangsa, contohnya Indonesia. Fenomena ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara nilai lokal dan arus globalisasi politik.

Negara ini dibentuk dan didesain dari awal memang bukanlah berkiblat kepada bentuk demokrasi liberal dan juga bukan berbentuk sosialis Marxisme, tetapi demokrasi jalan tengah yang sudah ada dan hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia secara berabad-abad, yakni melalui musyawarah dan mufakat sebagai nilai dasar.

Oleh sebab itu Soepomo mendesain negara ini dengan desain negara desa adat dalam lingkup nasional. Artinya, Soepomo menggagas sebuah pemerintahan yang mencerminkan struktur sosial tradisional yang telah teruji secara historis, yaitu negara integralistik.

Dalam desa ada yang dinamakan rembuk desa, yakni forum yang diciptakan secara adat untuk menyelesaikan segala masalah desa, yang diwakili oleh sesepuh desa, kaum agama, perwakilan pemuda, cendekiawan desa, dan perangkat desa dari kepala desa hingga unsur administratif lainnya. Ketika Indonesia merdeka, konsep ini diterjemahkan dalam bentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang merupakan lembaga rembuk desa dalam skala negara yang diwakili oleh anggota DPR, utusan daerah, dan utusan golongan.

Sayangnya, desain desa adat dari Soepomo ini dinilai telah tergerus oleh arus reformasi yang terlalu mengadopsi demokrasi liberal, baik secara politik maupun ekonomi, yang menekankan kebebasan individual secara dominan hingga berpotensi mengikis fondasi kolektivitas bangsa.

Akibat dari melemahnya tiang penyangga sebuah negara, maka muncul kondisi kehilangan arah, di mana tidak ada lagi kompas sebagai petunjuk arah pembangunan bangsa. Setiap rezim cenderung berjalan dengan kebijakan masing-masing tanpa berlandaskan cetak biru jangka panjang yang kokoh.

Dalam kondisi seperti ini, strategi besar ala Sun Tzu menjadi sulit diterapkan, karena kehilangan pijakan konseptual. Tatanan berbangsa dan bernegara menjadi kabur, bahkan kehilangan jati diri sebagai bangsa yang dahulu memiliki peradaban besar dan pengaruh luas hingga kawasan global.

Secara geopolitik dan geostrategis, Indonesia memiliki potensi menjadi raksasa dunia, mengingat letak geografisnya yang sangat strategis. Indonesia dilintasi oleh ALKI I dan ALKI II, dengan jalur-jalur vital seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar, dan Selat Lombok yang menjadi urat nadi perdagangan dunia.

Sekitar 60 persen perdagangan dunia dan lalu lintas transportasi minyak melewati jalur-jalur tersebut, yang menunjukkan betapa strategisnya posisi Indonesia dalam percaturan global. Namun potensi ini dinilai belum sepenuhnya dioptimalkan, khususnya dalam aspek ekonomi dan kedaulatan maritim.

Belajar dari konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, di mana Selat Hormuz yang menguasai sekitar 20 persen jalur distribusi minyak dunia dapat menjadi alat tekanan geopolitik yang sangat efektif. Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya dapat melumpuhkan ekonomi global.

Apalagi jika Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar, dan Selat Lombok mengalami gangguan atau blokade, maka dampaknya terhadap ekonomi dunia akan jauh lebih besar. Inilah yang seharusnya dibaca sebagai peluang strategis dengan menggunakan pendekatan seni perang ala Sun Tzu.

Penulis adalah praktisi hukum, pemerhati sosial politik dan sejarah bangsanya

Posting Komentar

Posting Komentar