166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Sejarah yang Berulang: Aceh Darussalam-Turki Usmaniyah, Indonesia, Turki dan Peluang Menjadi Poros Abad ke-21

Oleh: Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Politik dan Sejarah Bangsa

Retorika space- Sejarah sering kali berulang walau tidak secara persis, tetapi ia berulang dalam pola, semangat, dan kepentingan yang hampir sama. Apa yang pernah terjadi lima abad lalu antara Nusantara dan Turki Utsmani kini seakan menemukan bentuk baru dalam konteks geopolitik dan ekonomi global abad ke-21. Jika pada abad ke-16 hubungan tersebut dibangun atas dasar perdagangan rempah, keamanan jalur laut, dan perlawanan terhadap monopoli kolonial Portugis, maka pada masa kini hubungan Indonesia dan Turki berkembang melalui kerja sama teknologi pertahanan, ekonomi, serta upaya memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam tatanan dunia yang sedang berubah.

Banyak pengamat memprediksi bahwa kebangkitan pengaruh Turki akan kembali menjadi salah satu fenomena penting abad ini. Di saat yang sama, pertumbuhan kawasan Indo-Pasifik menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat strategis. Dalam konteks tersebut, sejarah lama antara Nusantara dan Turki Utsmani menjadi relevan untuk dibaca kembali, bukan sekadar sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai pelajaran strategis bagi masa depan.

Apabila Indonesia diberdayakan secara maksimal oleh para pemimpinnya, negeri ini berpotensi menjadi salah satu kunci utama peradaban abad ke-21, bukan hanya di ASEAN dan Indo-Pasifik, tetapi juga dalam percaturan global. Mengapa demikian?

Jawabannya sederhana namun sangat mendasar. Sekitar 60 persen jalur perdagangan dunia melewati kawasan yang berkaitan langsung dengan posisi strategis Indonesia, mulai dari Selat Malaka, Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, hingga ALKI II. 

Dalam geopolitik modern, siapa yang mampu menjaga dan mengendalikan keamanan jalur perdagangan internasional akan memiliki daya tawar yang sangat besar terhadap dunia.

Tidak mengherankan apabila Indonesia memiliki ambisi untuk membangun kekuatan angkatan laut bertipe blue water navy, yaitu angkatan laut yang mampu beroperasi jauh dari wilayah teritorialnya dan memiliki kapasitas proyeksi kekuatan pada tingkat global. Dalam jangka panjang, Indonesia memang harus berpikir besar untuk menjadi salah satu kekuatan maritim utama dunia, sejajar dengan negara-negara yang selama ini mendominasi lautan internasional.

Namun, sesungguhnya gagasan besar tersebut bukanlah sesuatu yang baru bagi bangsa ini. Sejarah Nusantara telah menunjukkan bahwa wilayah ini pernah memainkan peran strategis dalam jaringan perdagangan dan politik internasional.

Ketika Malaka Jatuh dan Aceh Mencari Sekutu

Pada tahun 1511, Portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque berhasil menaklukkan Kesultanan Malaka. Sultan Mahmud Syah kemudian mundur ke Bintan dan selanjutnya mendirikan Kesultanan Johor. Sejak saat itu Portugis menguasai Selat Malaka dan membangun benteng A Famosa sebagai simbol kekuasaannya.

Mengapa Malaka begitu penting?

Karena Selat Malaka merupakan "leher dunia" bagi perdagangan rempah-rempah. Lada, cengkih, pala, dan berbagai komoditas strategis lainnya mengalir melalui jalur tersebut. Siapa yang menguasai Selat Malaka, maka ia memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan internasional.

Kondisi itu membuat Kesultanan Aceh Darussalam tampil sebagai kekuatan baru yang berupaya menantang dominasi Portugis. Berbeda dengan anggapan yang sering muncul, bukan Samudera Pasai yang aktif meminta bantuan kepada Turki Utsmani, karena kerajaan tersebut telah mengalami kemunduran sekitar tahun 1521. 

Yang secara aktif menjalin hubungan diplomatik dengan Istanbul adalah Kesultanan Aceh Darussalam di bawah Sultan Alauddin al-Kahar yang memerintah antara tahun 1537 hingga 1571. Sementara jawa sejak abad ke empat belas Kesultanan Turki Usmani telah mengirimkan para ulama ulama nya untuk menyebarkan agama di tanah jawa, 

Aceh memiliki alasan yang sangat kuat untuk meminta bantuan kepada Turki Utsmani.

Pertama, Portugis menjadi musuh bersama karena melakukan blokade terhadap jalur perdagangan Muslim dan mengganggu pelayaran menuju pusat-pusat Islam.

Kedua, Aceh bercita-cita menjadi benteng Islam sekaligus pengganti Malaka sebagai pusat perdagangan kawasan.

Ketiga, Aceh membutuhkan teknologi militer, meriam, kapal perang, serta tenaga ahli yang mampu meningkatkan kapasitas pertahanannya.

Dalam rentang tahun 1519 hingga 1569, Aceh mengirim sejumlah utusan ke Istanbul. Perjalanan tersebut bukan perjalanan biasa. Jalurnya melewati Gujarat di India, kemudian Laut Merah, Mesir, hingga mencapai pusat pemerintahan Utsmani di Istanbul. 

Perjalanan pulang-pergi dapat memakan waktu empat hingga lima tahun.

Bayangkan, pada masa itu komunikasi diplomatik memerlukan kesabaran luar biasa. Tidak ada telepon, internet, maupun pesawat terbang. Segala sesuatu bergantung pada kapal layar, angin musim, dan keberanian para utusan menghadapi badai serta ancaman perompak.

Bantuan Sultan Suleiman dan Transfer Teknologi Militer

Sultan Suleiman I, yang dikenal sebagai Suleiman the Magnificent, menyetujui permintaan bantuan dari Aceh.

Keputusan tersebut didorong oleh beberapa pertimbangan.

Pertama, adanya kepentingan bersama untuk menghadapi dominasi Portugis yang mengganggu jalur perdagangan dan perjalanan haji umat Islam.

Kedua, kepentingan ekonomi karena Turki Utsmani juga ingin mematahkan monopoli Portugis atas perdagangan rempah-rempah.

Ketiga, kepentingan politik untuk memperluas pengaruh Utsmani hingga ke ujung timur dunia Islam.

Bantuan yang diberikan tidak sekadar berupa senjata.

Turki mengirim ahli persenjataan dan pembuat meriam, termasuk tokoh-tokoh seperti Lütfi Reis. Mereka membantu Aceh mengembangkan kemampuan memproduksi meriam jenis lela dan rentaka yang kemudian terkenal di kawasan Nusantara.

Selain itu, Turki juga mengirim teknisi kapal, rancangan kapal perang model Mediterania, serta sejumlah prajurit, insinyur, dan ahli metalurgi yang menetap di Aceh. Bahkan hingga saat ini masih terdapat kelompok masyarakat di Aceh yang diyakini memiliki garis keturunan Turki.

Puncak kerja sama tersebut terlihat pada tahun 1568 ketika armada gabungan Aceh-Utsmani melancarkan serangan besar ke Malaka. Meskipun operasi itu akhirnya gagal karena kendala logistik dan perlawanan Portugis yang memperoleh dukungan Johor, kerja sama tersebut tetap memberikan dampak besar bagi perkembangan kekuatan Aceh.

Aceh kemudian tumbuh menjadi salah satu kekuatan maritim paling berpengaruh di Asia Tenggara. Teknologi pembuatan meriam, penggunaan bubuk mesiu, hingga ilmu navigasi menyebar dari Aceh ke berbagai wilayah lain seperti Ternate, Banten, dan Mataram.

Dalam perspektif geopolitik, periode 1500–1600 dapat disebut sebagai "perang dingin" versi abad ke-16 antara Portugis dan aliansi Aceh-Utsmani. Selat Malaka menjadi kawasan strategis yang perannya hampir dapat disamakan dengan Laut Cina Selatan pada masa kini.

Pelajaran dari Aceh dan Samin Surosentiko

Menarik untuk membandingkan strategi Aceh dengan perjuangan Samin Surosentiko yang muncul beberapa abad kemudian.

Aceh menghadapi kekuatan kolonial laut yang bersenjata meriam dan kapal perang. Karena itu, strategi yang digunakan adalah membangun aliansi internasional dan memperoleh transfer teknologi.

Sebaliknya, Samin Surosentiko menghadapi kolonialisme Belanda yang beroperasi melalui hukum, pajak, dan administrasi pemerintahan. Karena itu, senjata utama yang digunakan bukan meriam, melainkan pembangkangan sipil, logika, dan keteguhan moral.

Meski berbeda zaman dan berbeda metode, keduanya memiliki benang merah yang sama.

Pertama, menjaga kedaulatan.

Kedua, menggunakan kecerdasan daripada kenekatan.

Ketiga, membuat lawan kesulitan menghadapi strategi yang tidak mereka perkirakan.

Aceh membuat Portugis terkejut karena memperoleh teknologi militer dari Turki. Sementara itu, Samin membuat Belanda kebingungan karena menghadapi perlawanan tanpa kekerasan yang sulit ditumpas dengan kekuatan senjata.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa kondisi menentukan bentuk perjuangan. Ketika tantangan datang dalam bentuk dominasi teknologi, maka jawabannya adalah penguasaan teknologi. Ketika tantangan datang dalam bentuk regulasi atau ketidakadilan kebijakan, maka jawabannya bisa berupa argumentasi, data, dan kesadaran masyarakat.

Aceh-Utsmani Jilid Dua?

Kini, setelah hampir lima abad berlalu, hubungan Indonesia dan Turki kembali memasuki fase yang menarik.

Jika dahulu kerja sama dilakukan melalui meriam dan kapal perang, maka sekarang kerja sama diwujudkan dalam bentuk drone, rudal, kapal perang modern, hingga pesawat tempur generasi kelima.

Indonesia telah menjalin kerja sama dengan Turki dalam pengembangan dan transfer teknologi drone Bayraktar TB2. Kerja sama juga berkembang pada sektor kapal perang, galangan kapal, rudal, serta proyek pesawat tempur siluman Kaan.

Yang menarik bukan semata-mata pembelian alutsista, melainkan aspek transfer of technology atau alih teknologi. Inilah inti pelajaran yang sebenarnya diwariskan oleh sejarah Aceh dan Turki Utsmani.

Aceh Darussalam tidak hanya meminta meriam. Aceh meminta ahli yang mampu mengajarkan cara membuat meriam kepada Turki Usmani saat itu.

Demikian pula Indonesia saat ini tidak boleh sekadar menjadi pasar produk pertahanan. Indonesia harus menjadi negara yang mampu memproduksi, mengembangkan, dan menyempurnakan teknologi tersebut secara mandiri.

Di bidang ekonomi, Indonesia dan Turki juga menunjukkan kecenderungan yang sama dalam memperluas pilihan kerja sama internasional, termasuk melalui keterlibatan dalam BRICS dan berbagai forum ekonomi alternatif.

Namun perlu dipahami bahwa langkah tersebut bukan berarti memusuhi pihak tertentu. Politik luar negeri Indonesia tetap berlandaskan prinsip bebas aktif. Tujuannya adalah memperluas ruang gerak ekonomi dan diplomasi agar Indonesia memiliki lebih banyak pilihan dalam menghadapi dinamika global.

Indonesia dan Takdir Maritim Abad ke-21

Pada akhirnya, sejarah memberikan sebuah template yang menarik.

Lima ratus tahun lalu Aceh mencari sekutu yang bersedia berbagi ilmu dan teknologi untuk mempertahankan kedaulatannya. Hari ini Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda, tetapi kebutuhan dasarnya tetap sama: membangun kemandirian nasional melalui penguasaan teknologi, kekuatan ekonomi, dan jaringan kerja sama internasional yang saling menguntungkan.

Sejarah kadang selalu berulang, walau pola- nya tidak sama , kepentingan besar sering muncul kembali dalam bentuk yang berbeda seakan arwah leluhur menuntun setiap generasi .

Dulu yang diperebutkan adalah jalur rempah-rempah. Kini yang diperebutkan adalah jalur perdagangan global, teknologi, energi, data, dan pengaruh geopolitik.

Dulu yang dikirim adalah meriam dan ahli kapal. Kini yang dibicarakan adalah drone, rudal, kecerdasan buatan, dan pesawat tempur generasi terbaru.

Namun esensinya tetap sama: bangsa yang ingin merdeka secara sejati harus mampu menguasai teknologi strategisnya sendiri dan memiliki mitra yang bersedia berbagi pengetahuan, bukan sekadar menjual produk jadi.

Jika para pemimpin Indonesia mampu membaca arah sejarah ini dengan tepat, maka bukan mustahil Indonesia akan menjadi salah satu poros utama dunia pada abad ke-21. Posisi geografis, kekayaan sumber daya, jumlah penduduk, serta letak strategis di jalur perdagangan global telah memberikan semua modal dasar yang diperlukan.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita memiliki keberanian, visi, dan konsistensi untuk mewujudkannya?

Karena sejarah telah menunjukkan bahwa bangsa besar bukanlah bangsa yang sekadar mewarisi kejayaan masa lalu, melainkan bangsa yang mampu belajar dari sejarah untuk menciptakan kejayaan baru

Posting Komentar

Posting Komentar