166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Wilayah Negara dan Merupakan Panggilan Jiwa

Oleh Agus Widjajanto 

Retorika.space- Dalam perspektif agama, secara dogmatis mengajarkan manusia agar menjadi manusia yang berorientasi rasa kemanusiaan, yang taat akan hukum hukum baik hukum dunia (negara) maupun percaya akan kehidupan setelah kematian karma baik yang dihasilkan oleh perbuatan kita. 

Berpuluh puluh tahun kita didoktrin oleh demokrasi barat bahwa ajaran politik tertentu (komunusne/ sosialisme) adalah sangat kejam dan tidak beragama, yang sesungguh nya tujuan utama nya adalah sebuah kekuasaan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara disamping dikenal sebagai bangsa yang mempunyai dasar negara Pancasila, kehidupan bermasyarakat kita juga selalu berkiblat kepada agama agama besar samawi dan hidustan, baik Islam, kristen protestan, Katolik, Hindu, Budha. Yang selalu mengajarkan bagaimana manusia harus berbagi terhadap sesama.

Namun fenomena yang terjadi di masyarakat rasa kemanusiaan yang beradap sangat jauh dari kehidupan sehari hari apa lagi adil , yang terlihat justru kehidupan yang secara individualistis sangat kuat, dimana masing masing orang dengan ego nya dan mementingkan kepentingan pribadi nya sendiri seolah olah sangat jauh dari ajaran doktrin agama agama besar tadi yang mengajarkan Kasih sayang. 

Tergerus nya nilai nilai kemanusiaan ini secara langsung nilai kehidupan sebagai masyarakat yang Pancasialis pun seakan luntur yang ada hanya slogan. 

Rasa kemanusiaan di negara negara yang katanya beragama bisa tampak kalah secara kemanusiaan antar sesama karena Formalitas moral, Egoisme Kelompok (Tribalisme) dan akhirnya kehilangan esensi ajaran itu sendiri. Faktor penyebab perbedaan antara lain formalitas agama dimana masyarakat nya lebih sibuk menjaga simbol, ritual agama, dan hukum luar dari pada memahami nilai belas kasih antar sesama .yang kedua karena eklusivitas agama sering disalah gunakan untuk membedakan kelompok suci dan sesat yang justru menipiskan empati kepada orang luar golongan. 

Dalam sosiologis fenomena ini dipelajari melalui perbandingan antara moralitas berbasis teologi (agama) dan moralitas sekuler / humanistik. 

Oleh sebab itu mengapa etika sosial di negara sekuler atau sosialis terkadang terlihat lebih solid dan merata dalam penerapan baik soal gotong royong nilai kemanusiaan, karena negara yang berbasis agama otoritas moral bersifat vertikal (transendental) yang harus nya fokus utama kepada sesama,/ masyarakat tersedot pada kepatuhan dogma, ritual, dan menjaga kesucian intitusi kelompok nya, sedangkan negara sosialis / Sekuler bekerja secara horisontal ( antar sesama manusia ) dimana nilai kebaikan diukur langsung dari dampak bagi kesejahteraan manusia lain di bumi saat ini. Bukan pahala atau Sanki di alam akherat yang akan datang yang diyakini sesuai doktrin. Sistem masyarakat agamis yang terpolarisasi, empati sering kali dibatasi oleh dinding keyakina, sesama kelompok nya. Yang bukan kelompok nya dianggap musuh secara terselubung. Ini akar utama masalah nya.

Ada sebuah kisah, seorang mahasiswa akademi akupuntur di Surabaya, diambil murid seorang prof, dari Tiongkok, yang mengajar secara terbang disurabaya tentang ilmu akupunktur, anotomi dan akuputomi bedah syaraf pengobatan tradisional China . Prof tersebut berasal dari kota Xian, ibukota propinsi Shaanxi di Tiongkok salah satu kota kuno paling terkenal yang merupakan titik awal jalur sutra yang memiliki sejarah lebih dari 3.100 tahun sebagai pusat ibukota dari 13 Dinasti Tiongkok sejak sebelum Masehi . 

Mahasiswa asli Indonesia tersebut dididik dan tampung dan diberikan tempat tinggal dan diajarkan praktek akupuntur tehnik tinggi serta diberikan waktu magang di Rumah sakit daerah kota Xian, propinsi Shaanxi. Antara sang prof katakan lah nama prof tersebut adalah prof Jian, tidak ada hubungan darah maupun keluarga serta hutang Budi tertentu, yang ada adalah rasa kemanusiaan bagaimana ilmu yang didapat dapat berkembang dan bermanfaat di negeri orang yakni Indonesia yang akan diberikan kepada putra putri Indonesia, Tampa ikayan politik , dan ikatan kepentingan bisnis, kecuali keinginan sebagai sesama manusia yang hidup di bumi dan langit yang sama yang kebetulan berbeda bangsa dan ras, namun punya komitmen kemanusiaan yang sama sebagai seorang penyembuh. 

Setelah kembali ke Indonesia mahasuswa tersebut, membuka praktek klinik akupuntur disebuah kota kecil di Jawa, dan tetap terhubung dalam komunitas keilmuwan dalam bidang akupuntur dan specialis keilmuwan baru dalam bidang akupuntur untuk tujuan mulia sebagai penyembuh di dalam ruang masyarakat. 

Dan tidak hanya berhenti disitu, murid murid serta anak dari prof Jian, juga tetap berhubungan dengan mahasiswa Indonesia tadi untuk mengembangkan ilmu akupuntur modern lewat organisasi akupuntur dunia ,Byang berpusat di Beijing, sebagai komunitas berbagi ilmu baru untuk perkembangan pengobatan masyarakat. 

Bahkan rencana nya prof Fu Zhong Gua MD PHD (penemu FSN dan presiden FSN Bejing ) serta Prof Yu Yan Fang juga dari organisasi akupuntur Dunia di Bejing khusus datang ke Indonesia untuk memberikan testimoni kepada akupunturis muda Indonesia agar mendapat wawasan pengetahuan, yang lebih baik, demi masa depan keilmuwan dokter akupuntur, yang bisa memberikan sumbang sih kepada negara dan masyarakat sebagai penyembuh menuju masyarakat yang sehat dan sejahtera. Dengan tubuh yang sehat tentu menumbuhkan kesejahteraan yang memadai bagi masyarakatnya   

Dengan demikian, kadang kita merasa malu sebagai bangsa yang kata nya Punya jiwa Pancasila dan selalu di doktrin sebagai negara yang beragama namun, rasa kemanusiaan dan rasa kepedulian kita kalah jauh dengan masyarakat yang kata nya dari negara yang berhaluan politik sosialis yang di cap sebagai politik yang tidak beragama. 

Sejarah mencatat masyarakat kota Xian ibukota dari propinsi Shaanxi mayoritas beragama moeslim dan minoritas Konghucu, yang merupakan kota moeslim tertua di Tiongkok, hal ini menunjukan kadang doktrin politik yang selama ini digaungkan sebagai bangsa tidak beragama, tidak sesuai dengan realitas yang ada.

Disini tidak ada maksut pembenaran terhadap Doktrin politik dan mempengaruhi doktrin politik sosialis untuk hidup di Indonesia , hal ini hanya merupakan gambaran secara rasa kemanusiaan terhadap sesama antar manusia walau terjadi perbedaan ras, agama, kepercayaan dan strata sosial

Posting Komentar

Posting Komentar