166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

RADEN WIJAYA: PENDIRI MAJAPAHIT ANTlARA FAKTA SEJARAH DAN LEGENDA

Oleh: Agus Widjajanto, Pemerhati Sosial Budaya

Retorika space- Raden Wijaya adalah tokoh kunci berdirinya Kerajaan Majapahit pada 1293 Masehi. Dalam kajian sejarah, sosok Raden Wijaya berada pada titik temu antara data prasasti, catatan asing, naskah babad, serta mitos dan legenda.

Untuk memahami sejarah secara utuh, antara fakta sejarah berdasarkan data primer berupa prasasti dan catatan kuno dengan legenda atau mitos harus ditempatkan secara proporsional. Pemisahan ini penting agar tidak terjadi kerancuan sejarah yang pada akhirnya dapat menyesatkan generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Raden Wijaya dan Berdirinya Majapahit

Berdasarkan catatan sejarah Dinasti Yuan atau Yuan Shi, ekspedisi militer Kekaisaran Mongol yang dikirim oleh Kubilai Khan ke Jawa pada 1292 Masehi melibatkan puluhan ribu pasukan. Armada tersebut berlayar dari Tiongkok melalui Champa dan Sumatra menuju Jawa.

Ekspedisi itu dilakukan setelah hubungan antara Kubilai Khan dan Kerajaan Singasari memburuk. Salah satu pemicunya adalah tindakan Raja Kertanegara terhadap utusan Kubilai Khan, Meng Khi, pada 1289 Masehi.

Namun ketika pasukan Mongol tiba di Jawa, situasi politik telah berubah. Kerajaan Singasari telah runtuh setelah diserang oleh Jayakatwang, penguasa Gelang-Gelang. Raja Kertanegara tewas, sementara Raden Wijaya yang merupakan menantu Kertanegara harus menghadapi situasi politik yang sangat genting.

Dalam situasi tersebut, Raden Wijaya kemudian memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol. Ia bekerja sama dengan mereka untuk menghadapi Jayakatwang. Setelah Jayakatwang dikalahkan, Raden Wijaya justru berbalik menghadapi pasukan Mongol dan berhasil memaksa mereka meninggalkan Jawa.

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi salah satu episode paling menarik dalam sejarah awal Majapahit: bagaimana seorang penguasa lokal menggunakan kekuatan asing untuk mengalahkan musuhnya, tetapi pada saat yang tepat kemudian mengusir kekuatan asing tersebut.

Fakta Sejarah yang Dapat Diverifikasi

Ada sejumlah sumber sejarah yang menjadi dasar untuk memahami sosok Raden Wijaya.

Prasasti Kertanegara menyebut nama yang berkaitan dengan Wijaya ketika masih berada dalam lingkungan politik Singasari. Prasasti Sukamerti tahun 1296 Masehi menyebut Sri Raden Wijaya sebagai raja Majapahit dan memperkuat kedudukannya sebagai raja pertama Majapahit.

Prasasti Canggu tahun 1358 Masehi juga menjadi salah satu sumber penting dalam pembicaraan mengenai tahun berdirinya Majapahit, yakni 1215 Saka atau 1293 Masehi.

Sementara itu, catatan Yuan memberikan gambaran mengenai peristiwa ketika penguasa Jawa menggunakan strategi politik dan militer untuk menghadapi pasukan Mongol.

Kemudian Negarakertagama, karya Mpu Prapanca yang ditulis pada 1365 Masehi, menyebut Wijaya sebagai pendiri Majapahit sekaligus menantu Kertanegara. Naskah tersebut menjadi sumber penting dalam memahami silsilah dan legitimasi politik Majapahit.

Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan tokoh sejarah yang nyata. Ia memerintah Majapahit sejak 1293 sampai 1309 Masehi. Ia berasal dari lingkungan Wangsa Rajasa dan memiliki hubungan darah serta perkawinan dengan keluarga Kerajaan Singasari.

Ia bukan hanya seorang raja, tetapi juga seorang arsitek politik yang berhasil membangun kerajaan baru dari kehancuran Singasari.

Raden Wijaya dalam Versi Legenda

Berbeda dengan sumber prasasti dan catatan asing, kisah mengenai Raden Wijaya dalam Pararaton dan tradisi babad memiliki nuansa yang jauh lebih dramatis.

Dalam sejumlah kisah, asal-usul Raden Wijaya dikaitkan dengan cerita mengenai Dewi Dyah Lembutu dan seorang Brahmana. Ia dikisahkan lahir dalam keadaan luar biasa, ditemukan dan kemudian dirawat. Pola cerita semacam ini sebenarnya merupakan motif yang cukup umum dalam tradisi babad dan cerita kepahlawanan.

Kisah lain yang sangat terkenal adalah mengenai siasat Raden Wijaya terhadap pasukan Mongol. Setelah Singasari runtuh, ia menghadap kekuatan Mongol dan memperlihatkan seolah-olah tunduk. Ia kemudian memperoleh kesempatan membuka hutan Tarik, dengan dukungan Arya Wiraraja dari Madura.

Setelah kekuatan terkumpul dan pasukan Mongol berada dalam keadaan lengah, Raden Wijaya berbalik menyerang mereka. Pasukan Mongol akhirnya dipukul mundur dari Jawa.

Dari sinilah muncul pula legenda mengenai asal-usul nama Majapahit. Konon, ketika membuka hutan Tarik, ditemukan buah maja yang rasanya pahit. Dari kata maja dan pahit itulah kemudian lahir nama Majapahit.

Dalam tradisi keagamaan, setelah wafat Raden Wijaya juga dikaitkan dengan konsep moksa dan penjelmaan sebagai dewa Wisnu.

Cerita-cerita tersebut tentu tidak dapat diperlakukan sama dengan data prasasti. Namun bukan berarti legenda tidak penting.

Legenda memiliki fungsi berbeda. Ia bukan semata-mata mencatat kronologi, tetapi memberikan legitimasi kosmis, spiritual, dan ideologis terhadap berdirinya sebuah kerajaan.

Membaca Tiga Lapisan Sejarah Raden Wijaya

Para akademisi seperti Prof. Slamet Muljana, Prof. C.C. Berg, dan Prof. Tony Djubiantono memberikan perspektif penting dalam melihat berbagai lapisan kisah Raden Wijaya.

Pertama adalah lapisan politik atau realpolitik.

Raden Wijaya merupakan seorang politisi yang mampu memanfaatkan konflik antara kekuatan-kekuatan besar pada zamannya. Di satu sisi terdapat warisan politik Singasari, di sisi lain terdapat Jayakatwang dari Kediri, sementara dari luar Jawa datang kekuatan Mongol.

Strateginya sederhana tetapi sangat efektif: aliansi dengan musuh dari musuhku.

Ia memanfaatkan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang, kemudian menggunakan momentum tersebut untuk mengusir pasukan Mongol dari Jawa.

Kedua adalah lapisan silsilah dan legitimasi.

Sebagai menantu Kertanegara, Raden Wijaya memiliki legitimasi untuk menempatkan Majapahit sebagai penerus Singasari. Wangsa Rajasa tetap dipertahankan sebagai dasar legitimasi dinasti.

Gelar Kertarajasa Jayawardhana sendiri menjadi bagian dari konstruksi legitimasi tersebut.

Ketiga adalah lapisan mitos dan ideologi.

Cerita mengenai pembukaan hutan Tarik, buah maja yang pahit, serta moksa menjadi bagian dari origin myth, yakni mitos asal-usul sebuah kerajaan.

Dalam konsep dewaraja Jawa-Hindu, raja tidak hanya dipandang sebagai manusia biasa, tetapi juga memiliki dimensi sakral sebagai representasi atau titisan dewa.

Dalam konteks inilah sejarah dan sastra bertemu. Sejarawan bertugas memisahkan mana fakta yang dapat diverifikasi dan mana narasi simbolik yang berfungsi memberikan makna kepada sejarah.

Perdebatan Akademis Mengenai Raden Wijaya

Ada beberapa persoalan yang masih menjadi bahan pembahasan.

Pertama, mengenai nama "Wijaya". Apakah Wijaya merupakan nama asli atau merupakan gelar yang berkaitan dengan kemenangan? Kata wijaya sendiri berarti kemenangan. Ada kemungkinan nama aslinya berbeda, tetapi dalam sumber prasasti nama Wijaya merupakan nama yang digunakan.

Kedua, mengenai hubungan Raden Wijaya dengan pasukan Mongol. Catatan Yuan memperlihatkan bahwa penguasa Jawa menggunakan strategi yang efektif untuk menghadapi pasukan Mongol. Dalam perspektif sejarah Indonesia, tindakan tersebut lebih tepat dilihat sebagai strategi diplomasi dan militer dalam menghadapi situasi geopolitik yang kompleks daripada sekadar pengkhianatan terhadap sebuah aliansi.

Ketiga, mengenai tahun berdirinya Majapahit. Tahun 1293 Masehi merupakan tahun yang secara umum diterima sebagai tahun berdirinya Majapahit. Tanggal 15 November 1293 bahkan kemudian dikaitkan dengan peringatan sejarah Kota Surabaya karena kawasan Tarik berada di sekitar wilayah tersebut.

Dengan demikian, secara historis Raden Wijaya merupakan pangeran dari lingkungan Singasari, menantu Kertanegara, pendiri Majapahit pada 1293, dan raja yang memerintah sampai 1309.

Sementara dalam versi legendaris, ia digambarkan sebagai tokoh dengan kecerdikan luar biasa yang mampu mengalahkan pasukan Mongol melalui siasat, mendirikan kerajaan dari hutan Tarik, dan setelah wafat mencapai moksa.

Keduanya memiliki tempat masing-masing.

Fakta sejarah menjelaskan bagaimana Majapahit berdiri, sedangkan legenda menjelaskan bagaimana masyarakat memberikan makna terhadap berdirinya Majapahit.

Karena itu, Raden Wijaya tidak hanya dapat dilihat sebagai pendiri sebuah negara, tetapi juga sebagai arsitek narasi politik pertama Majapahit.

Raden Wijaya dan Arya Wiraraja: Sekutu, Penolong, lalu "Musuh dalam Selimut"

Hubungan Raden Wijaya dengan Arya Wiraraja merupakan salah satu kisah politik paling penting dalam fase awal berdirinya Majapahit.

Pada awalnya, Arya Wiraraja adalah penolong Raden Wijaya ketika Singasari runtuh. Namun setelah Majapahit berdiri, hubungan tersebut berubah menjadi konflik kepentingan.

Arya Wiraraja dikenal sebagai Adipati Sumenep, Madura, dengan gelar Mahesa Anengah Arya Wiraraja. Ia merupakan bagian dari lingkungan politik Kertanegara. Setelah Kertanegara dibunuh Jayakatwang pada 1292, Wiraraja kemudian berada di Madura dan membangun kekuatannya di Sumenep.

Ketika Raden Wijaya berada dalam keadaan terdesak, Wiraraja memainkan peran penting.

Ia membantu Raden Wijaya dan memberikan saran agar menghadap pasukan Mongol, seolah-olah tunduk, lalu memanfaatkan pasukan tersebut untuk menghancurkan Jayakatwang.

Dengan demikian, dalam tradisi sejarah yang berkembang, Wiraraja dapat dilihat sebagai salah satu otak penting di balik strategi yang kemudian membawa Raden Wijaya menuju kemenangan.

Rekan Pendiri Majapahit

Setelah Jayakatwang dikalahkan dan pasukan Mongol diusir dari Jawa Timur, Majapahit berdiri.

Sebagai balas jasa, Raden Wijaya memberikan wilayah Lumajang kepada Wiraraja dengan gelar Arya Adikara. Lumajang kemudian memiliki posisi yang relatif otonom.

Namun hubungan tersebut tidak berlangsung selamanya.

Pada 1295 Masehi terjadi pemberontakan Ranggalawe. Dalam Pararaton, pemberontakan ini berkaitan dengan kekecewaan kelompok Wiraraja.

Di sinilah hubungan politik keduanya mulai retak.

Wiraraja dianggap kecewa karena jasanya tidak memperoleh posisi yang sesuai dengan harapannya. Ia tidak menjadi pejabat tertinggi di pusat kerajaan. Sementara Raden Wijaya sebagai raja membutuhkan konsolidasi kekuasaan.

Dalam konteks politik modern, situasi tersebut dapat dianalogikan dengan persoalan pembagian kekuasaan setelah sebuah koalisi berhasil memenangkan pertarungan politik.

Wiraraja kemudian dikaitkan dengan dorongan kepada anaknya, Ranggalawe, Adipati Tuban, untuk melakukan perlawanan terhadap Majapahit.

Pemberontakan itu berhasil dipadamkan oleh Raden Wijaya.

Hubungan keduanya pun menjadi dingin. Wiraraja tetap berada di Lumajang hingga wafat, tetapi tidak lagi memiliki pengaruh sebesar sebelumnya di pusat pemerintahan.

Paradoks Pendiri Negara

Mengapa hubungan Raden Wijaya dan Arya Wiraraja akhirnya pecah?

Para ahli seperti Prof. Slamet Muljana dan Prof. Uka Tjandrasasmita melihat persoalan tersebut sebagai konflik politik yang memiliki struktur lebih besar daripada sekadar persoalan pribadi.

Wiraraja merasa jasanya tidak dihargai. Di sisi lain, Raden Wijaya membutuhkan negara yang kuat dan terpusat.

Ada benturan kepentingan antara kelompok politik yang ikut membangun Majapahit dengan kebutuhan seorang raja untuk mengonsolidasikan kekuasaan.

Karena itu, konflik tersebut bukan semata-mata persoalan pengkhianatan pribadi, melainkan konflik politik struktural.

Wiraraja membawa logika politik bahwa orang yang berjasa dalam mendirikan kekuasaan berhak memperoleh bagian besar dari kekuasaan tersebut.

Sementara Raden Wijaya sebagai kepala negara harus membangun pemerintahan yang terpusat dan tidak boleh membiarkan satu kekuatan politik menjadi terlalu dominan.

Inilah yang dapat disebut sebagai "Paradoks Pendiri Negara".

Orang yang paling berjasa dalam mendirikan sebuah negara terkadang justru menjadi pihak yang paling sulit ditempatkan dalam struktur negara yang baru berdiri.

Dan paradoks seperti ini bukan hanya terjadi pada masa Majapahit. Dalam sejarah politik modern pun, persoalan serupa masih dapat ditemukan.

Raden Wijaya, Gayatri, dan Raja Padmi

Bagian lain yang sangat penting dalam sejarah Majapahit adalah hubungan Raden Wijaya dengan para istrinya, khususnya Dyah Gayatri atau Rajapatni.

Gayatri merupakan salah satu putri Kertanegara dan istri Raden Wijaya. Ia kemudian dikenal dengan gelar Sri Rajapatni Gayatri.

Raden Wijaya memiliki hubungan perkawinan dengan empat putri Kertanegara, yaitu Tribhuwaneswari, Prajnaparamita, Narendraduhita, dan Gayatri.

Dalam perkembangan selanjutnya, Gayatri menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah dinasti Majapahit.

Setelah Raden Wijaya wafat pada 1309, Gayatri menjadi janda kerajaan yang sangat dihormati. Ia tidak tampil sebagai ratu secara langsung, tetapi pengaruh politik dan spiritualnya tetap besar.

Gayatri kemudian menjadi seorang bhiksuni. Dalam Negarakertagama, Mpu Prapanca memberikan penghormatan yang tinggi terhadap sosok Rajapatni Gayatri.

Dalam konteks ini, gelar "Raja Padmi" dipahami sebagai kedudukan yang berkaitan dengan permaisuri atau ibu kerajaan.

Dari Gayatri lahir Rajadewi. Melalui garis keturunan inilah kemudian terbentuk mata rantai dinasti yang menghubungkan Raden Wijaya, Kertanegara, Tribhuwana Tunggadewi, hingga Hayam Wuruk.

Hubungan darah tersebut memperkuat legitimasi dinasti Majapahit.

Mengapa Gayatri Sangat Penting?

Menurut perspektif yang dikemukakan oleh para sejarawan seperti Prof. Slamet Muljana dan Prof. H.J. de Graaf, Gayatri memiliki posisi penting dalam menjaga stabilitas politik dinasti Majapahit.

Pertama, Gayatri menjadi penstabil politik setelah wafatnya Raden Wijaya.

Kedua, garis keturunannya menjadi penghubung antargenerasi dinasti.

Ketiga, kedudukannya memperlihatkan pentingnya garis keturunan perempuan dalam konstruksi legitimasi kerajaan Jawa.

Nama Rajapatni Gayatri bahkan terus muncul dalam berbagai sumber dan prasasti setelah Raden Wijaya wafat.

Karena itu, Gayatri bukan sekadar istri Raden Wijaya. Ia merupakan salah satu perempuan kunci yang ikut menjaga keberlangsungan dinasti Majapahit.

Lalu Bagaimana dengan Dara Petak?

Pertanyaan berikutnya adalah mengenai Dara Petak. Di mana posisi perempuan dari Melayu ini dalam struktur keluarga Raden Wijaya?

Dara Petak merupakan putri dari lingkungan Kerajaan Melayu Dharmasraya. Ia dibawa ke Jawa dalam rangkaian hubungan politik yang berkaitan dengan Ekspedisi Pamalayu.

Perkawinan dengan Raden Wijaya memiliki dimensi politik. Hubungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun legitimasi dan hubungan antara kekuasaan Jawa dengan kawasan Melayu.

Dalam sejumlah penafsiran, Dara Petak ditempatkan di luar empat putri Kertanegara yang menjadi permaisuri utama Raden Wijaya.

Karena itu, posisi Dara Petak sering dipahami berbeda dengan empat permaisuri utama tersebut.

Jika empat perkawinan dengan putri Kertanegara memiliki fungsi utama dalam memperkuat legitimasi dinasti di Jawa, maka hubungan dengan Dara Petak memiliki dimensi politik luar Jawa, terutama dalam kaitannya dengan Melayu.

Dari hubungan tersebut kemudian lahir Adityawarman, tokoh penting dalam sejarah Sumatra pada abad ke-14.

Adityawarman memiliki hubungan darah Jawa dan Melayu. Dalam perjalanan sejarah, ia kemudian tampil sebagai tokoh penting dalam perkembangan kekuasaan di Sumatra.

Dengan demikian, Dara Petak memiliki posisi penting dalam politik hubungan Majapahit dengan dunia Melayu.

Ia dapat dilihat sebagai bagian dari strategi perkawinan politik untuk memperluas jejaring kekuasaan Majapahit di luar Jawa.

Antara Fakta, Legenda, dan Politik

Pada akhirnya, Raden Wijaya harus ditempatkan dalam tiga ruang sekaligus: sejarah, politik, dan legenda.

Dalam ruang sejarah, ia adalah tokoh nyata. Ia adalah pendiri Majapahit dan raja pertama kerajaan tersebut.

Dalam ruang politik, ia adalah seorang penguasa yang mampu membaca peta kekuatan pada zamannya. Ia menghadapi Jayakatwang, memanfaatkan kedatangan Mongol, lalu mengusir kekuatan Mongol dari Jawa.

Dalam ruang legenda, ia menjadi sosok hampir ideal: pahlawan yang membuka hutan Tarik, menemukan buah maja yang pahit, mendirikan kerajaan besar, dan pada akhirnya mencapai dimensi spiritual melalui moksa.

Sementara hubungan dengan Arya Wiraraja memperlihatkan sisi lain dari pendirian sebuah negara: bahwa sebuah kerajaan tidak hanya dibangun dengan perang, tetapi juga dengan kompromi, aliansi, pembagian kekuasaan, dan kemudian konsolidasi.

Demikian pula hubungan dengan Gayatri dan Dara Petak menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam politik dinasti Majapahit. Perkawinan bukan sekadar hubungan pribadi, melainkan juga instrumen politik untuk membangun legitimasi dan jejaring kekuasaan.

Karena itu, memahami Raden Wijaya tidak cukup hanya dengan membaca Pararaton, Negarakertagama, atau prasasti secara terpisah. Semuanya harus dibaca secara kritis, dengan membedakan antara data sejarah, interpretasi, tradisi sastra, dan mitologi.

Raden Wijaya pada akhirnya bukan hanya pendiri Majapahit, tetapi juga arsitek pertama sebuah narasi besar tentang Majapahit.

Kerajaan itu lahir dari pergulatan antara Singasari, Kediri, dan kekuatan Mongol. Namun ia kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah Nusantara.

Di balik berdirinya Majapahit terdapat strategi Raden Wijaya, bantuan Arya Wiraraja, legitimasi Wangsa Rajasa, peran para perempuan kerajaan seperti Gayatri, serta hubungan politik dengan dunia Melayu melalui Dara Petak.

Dari sanalah kita dapat memahami bahwa sejarah Majapahit bukan cerita hitam-putih tentang siapa yang menjadi pahlawan dan siapa yang menjadi pengkhianat.

Sejarah adalah rangkaian kepentingan, strategi, legitimasi, kekuasaan, dan narasi yang dibangun manusia pada zamannya.

Dan di tengah semua itu, Raden Wijaya berdiri sebagai sosok yang berada di antara fakta sejarah dan legenda—seorang pendiri kerajaan yang tidak hanya memenangkan perang, tetapi juga berhasil membangun sebuah kekuasaan yang narasinya bertahan jauh melampaui masa hidupnya.

Posting Komentar

Posting Komentar