166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

SUTORO DARI MAGELANG

Oleh : Agus Widjajanto, Pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsanya

Retorika space- Ketika "Musuh" Memilih Menjadi Saudara dan justru Menembak ke Arah Penjajahan_

Sejarah kemerdekaan kita ditulis bukan hanya oleh darah anak bangsa. Ada juga tinta dari seorang "musuh" yang memilih berpihak. Namanya Mitsuyuki Tanaka. Di tanah Magelang, ia berganti nama jadi Sutoro. Dan karena keberaniannya, ia disematkan Bintang Gerilya oleh Presiden Soekarno.

Kisah ini bukan dongeng tapi kisah nyata dari sejarah Kemerdekaan Bangsa dan hal Ini merupakan tamparan bagi kita yang pada era ini rasa Nasionalis nya tergerus luntur oleh sifat Individualistik karena pengaruh budaya liberal demi ekonomi . 

Kisah ini dimulai dari : 

 1. 17 AGUSTUS 1945: BOM WAKTU DI GUDANG MAGELANG

Agustus 1945. Jepang menyerah. Tapi ribuan pucuk senjata di gudang-gudang Kemonpeitai dan Rikugun belum jelas nasibnya. Di Magelang, situasinya tegang. Belanda dan NICA sudah mengintip dari jauh.

Di sinilah seorang prajurit Jepang berpangkat Letnan Dua, Mitsuyuki Tanaka mengambil keputusan yang mengubah sejarah.

Bukan membakar. Bukan membawa pulang.

Ia membuka gudang. Satu per satu. Senapan, amunisi, granat. Lalu diserahkannya ke tangan para pemuda dan TRI di Magelang.

Dengan bahasa Indonesia patah-patah ia berkata: _“Ini untuk merdeka. Lawan penjajah.”

Bayangkan. Seorang tentara negara penjajah, memilih melawan keputusan Negaranya yang harus tunduk kepada sekutu ( Amerika Serikat, Inggris ,Belanda ) agar menyerahkan seluruh senjata tentara Dai Nipon kepada sekutu . Dimana ia Menentang negaranya sendiri demi cita-cita bangsa yang baru 3 hari merdeka.

2. DARI TANAKA MENJADI SUTORO: SUMPAH TANPA UPACARA

Setelah peristiwa heroik membongkar gudang senjata di Magelang untuk menghadang sekutu di palagan Ambarawa , itu ia tidak pulang. Ia memilih tinggal. Memilih bertempur bersama. Dengan pengalaman tempur di mencuria , dan burma , Sutoro berdiri paling depan bersama para pejuang kemerdekaan melawan desingan peluru Belanda di Ambarawa . 

Tentara Jepang Dai Nipon tersebut lalu berganti nama jadi *Sutoro*. Nama Jawa. Nama rakyat dan kawin dengan wanita pribumi yang melahirkan anak anak nya di bumi Pertiwi ini. 

Ia ikut bergerilya di hutan-hutan Magelang, Temanggung, Wonosobo. Tidur di lumbung, makan singkong, diserbu tentara Belanda berkali-kali.yang suatu ketika dalam pertempuran sengit satu peluru hampir merenggut jiwanya . Itulah keberanian Sutoro seorang pejuang yang merupakan tentara jepang yang ditugaskan di Magelang Jawa tengah .

Bagi seorang pejuang sejati ia tidak minta kewarganegaraan. Ia Tidak minta gaji.

Yang ia minta cuma satu: Indonesia merdeka.

Pada tahun 1950-an, Presiden *Soekarno* memanggilnya ke Jakarta. Di Istana negara tanpa upacara tanpa dokumenter kamera , Soekarno menyematkan *Bintang Gerilya* di dadanya. Soekarno berkata kepadanya : 

_"Kamu bukan seorang tentara dan warga negara Jepang lagi. Kamu Sutoro. Kamu saudara kami,"_ ucap Bung Karno.

3. PELAJARAN DARI "MUSUH" YANG BERETIKA

Kisah Sutoro hari ini relevan karena 3 hal:

Pertama, Soal Keberpihakan.

Di era "perang pemikiran", banyak orang Indonesia justru membela narasi penjajah baru: hedon, korupsi, pecah belah. Jadi agen asing jelekin bangsa sendiri. Sementara Sutoro, orang Jepang, justru memilih membela Indonesia. Ini soal nurani, bukan soal KTP. Atau Label seorang Warga Negara . Ini soal panggilan nurani , soal Nasionalisme sejati. 

Kedua, Soal Integritas.

Ia bisa saja tutup mata. Bisa saja selamat pulang ke Jepang. Tapi ia pilih _"Urip Iku Urup" - hidup harus bisa menerangi. Ia menerangi perjuangan kita dengan senjata dan nyawanya sebagai seorang tentara pejuang 

Ketiga, Soal Rekonsiliasi Sejati.

Sutoro membuktikan kebencian bisa diputus. Penjajahan bisa dilawan bersama. Bahkan oleh mantan "musuh". Ini pelajaran mahal untuk kita semua yang masih sibuk mengkotak-kotakkan saudara sebangsa, dengan kelompok kelompok nya . Dengan identitas kesukuan nya  

MENGAPA KITA JARANG MENDENGAR NAMA SUTORO ?

Karena sejarah kita terlalu sibuk menulis pahlawan yang "sempurna". Padahal pahlawan sejati sering kali datang dari tempat tak terduga. Bahkan dari tempat yang paling gelap sekalipun , akan lahir Pahlawan yang tidak minta label kepahlawanannya di hormati , 

Sutoro dari Magelang mengingatkan kita:

Kemerdekaan itu tidak bertanya kamu dari mana. Ia hanya bertanya kamu berpihak ke mana.

Hari ini, saat kita ribut soal impor, soal buzzer, soal "Pesta Baby" yang para pengambil kebijakan tanpa sadar melupakan rakyatnya

Mungkin kita perlu menoleh ke Magelang. Ke makam pahlawan di Magelang yakni seorang Jepang bernama Sutoro.

Untuk bertanya: _"Sudah berapa gudang 'senjata' berupa ilmu, keberanian, dan kejujuran yang kita buka untuk bangsa ini?"

Karena seperti kata Bung Karno: _"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya."

Termasuk pahlawan bernama Sutoro.

Penulis: Agus Widjajanto

Posting Komentar

Posting Komentar