166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Keadilan Sosial sila ke lima Pancasila, Budaya Ubuntu Afrika selatan dan antara Soekarno dan Nelson Mandela

Oleh : Agus Widjajanto 

Jakarta, retorika.space~Pada falsafah dan dasar negara kita Pancasila pada sila ke lima, yang diimplementasikan lewat Pembukaan (Preambule) Kontitisi tertulis negara yakni UUD 1945, secara tegas pada pokok pikiran kedua menyatakan " Negara Hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia" pernyataan ini menegaskan tujuan dari negara dimana para pendiri bangsa (Founding Fathers) yang ingin menciptakan masyarakat adil makmur untuk semua warga negara. Yang mana hingga Indonesia merdeka ke 80 tahun masih jauh dari terwujud. 

Makna keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia merupakan landasan fundamental dalam membentuk dan menyekenggarakan negara Indonesia yang Merdeka seutuh nya. 

Bung karno dalam pidato nya yang sangat terkenal menyatakan, bahwa Indonesia negara yang besar jika ingin menjadi Mercusuar Dunia maka Indonesia harus merdeka secara utuh, baik merdeka secara Ekonomi, Merdeka Secara politik dan Merdeka secara budaya. Bahwa musuh terberat saat indonesia nanti mencapai tinggal landas justru berasal dari rskyat kita sendiri yang mabuk akan budaya dan sistem Kelola ekonomi asing dan mabuk akan agama, maka jikalau jadi moeslim jadilah moeslim Indonesia, jikalau saudara saudara ingin jadi kristen jadilah kristen Indonesia, dan demikian juga jikalau ingin jadi hindu jadilah hindu indonesia yang berkarakter sesuai adat dan budaya orang indonesia. Dan kondisi saat ini masih relevan untuk diketengahkan karena deras nya masuk budaya dan sistem liberal serta demokrasi yang sebenarnya tidak sesuai katakteristik bangsa Indonesia, atas pengaruh tehnologi Informasi yang seolah negara tidak ada batas dan sekat lagi. 

Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia pertama tertulis tegas tegas " Bahwa sesungguh nya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perileadilan" kalimat ini mengilhami tokoh tokoh besar dunia, termasuk Tokoh tokoh Afrika Selatan dalam melawan politik apartheid. 

Nelson Mandela melihat rekonsiliasi sebagai langkah krusial untuk menyembuhkan luka sejarah Afrika Selatan. Setelah 27 tahun dipenjara, ia memilih jalan damai dengan membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (Truth and Reconciliation Commission/TRC) pada 1995.

Beberapa pandangan Mandela tentang rekonsiliasi:

- Pengakuan dan Pengampunan: Ia percaya bahwa mengungkap kebenaran secara jujur bisa membebaskan bangsa dari dendam. TRC memberikan amnesti bagi pelaku yang bersedia mengakui kejahatan mereka.

- Persatuan Nasional: Dalam pidato pelantikannya (1994), ia menyerukan “nation building”, bahwa tidak ada masa depan tanpa rekonsiliasi antar ras.

- Pengadilan Moral: Ia menekankan bahwa keadilan harus seimbang dengan kemanusiaan, bukan balas dendam.

Mandela juga pernah berkata:

- Jika kita ingin maju, kita harus membebaskan diri dari belenggu kebencian, kecurigaan, dan ketakutan.”

Pendekatannya menunjukkan bahwa rekonsiliasi bukan hanya politik, tapi juga proses penyembuhan jiwa bangsa.

Demikian juga Uskup Agung Afrika selatan Desmon Tutu. 

Desmond Tutu melihat rekonsiliasi di Afrika Selatan sebagai proses yang sangat penting untuk menyembuhkan luka bangsa pasca-apartheid. Sebagai Ketua Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), ia mendorong dialog terbuka, pengampunan, dan pengungkapan kebenaran agar korban dan pelaku bisa bersama-sama membangun masa depan yang lebih adil.

Tutu menganggap rekonsiliasi bukan hanya sekadar kebijakan politik, tapi juga panggilan moral dan spiritual. Ia sering menggunakan konsep Ubuntu (kemanusiaan) untuk menegaskan bahwa identitas kita terikat dengan orang lain. Menurutnya, tanpa rekonsiliasi, masyarakat akan terus terbebani dendam dan ketakutan.

Ia juga menyadari tantangan yang ada. Dalam bukunya No Future Without Forgiveness Tutu menjelaskan bahwa rekonsiliasi memerlukan pengakuan kesalahan, pengampunan yang tulus, dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Meski KKR mendapat kritik, Tutu tetap percaya bahwa proses ini menjadi model bagi negara-negara lain yang ingin keluar dari konflik berat.

Jadi, pendeknya Tutu mendukung rekonsiliasi sebagai jalan menuju kesembuhan nasional, dengan penekanan pada kebenaran, pengampunan, dan persatuan berdasarkan nilai kemanusiaan.

Hal ini berkaitan dengan budaya Ubuntu di Afrika Selatan yang hampir mirip dengan Budaya Pancasila menyangkut sila ke lima dari Pancasila dan sifat kegotong royongan dalam sistem Ekonomi Kerakyatan yang diusung Bung Hatta. 

Ubuntu adalah konsep budaya dari Afrika Selatan yang sering dirangkum dengan frasa “Saya ada karena kita ada” atau “Umuntu ngumuntu ngabantu” (dalam bahasa Xhosa/Zulu). Itu berarti identitas dan kemanusiaan seseorang tidak bisa dipisahkan dari komunitasnya.

Apa Makna Ubuntu?

- Kemanusiaan Bersama: Keberadaanmu diakui dan dihargai karena ada orang lain.

- Persatuan dan Kepedulian: Menekankan solidaritas, empati, dan tanggung jawab sosial.

- Harmoni Sosial: Konflik bisa diselesaikan melalui dialog dan penghormatan, bukan balas dendam.

Dalam Konteks Rekonsiliasi Afrika Selatan

Desmond Tutu sering mengangkat Ubuntu saat memimpin Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Ia percaya bahwa tanpa mengakui kemanusiaan bersama, rekonsiliasi hanya jadi formalitas.

Contoh konkret:

- Pemulihan Hubungan: Korban dan pelaku diundang untuk berbicara, saling mendengar, dan melihat kemanusiaan masing-masing.

- Restorasi Komunitas: Fokus pada penyembuhan kolektif, bukan hanya individu.

Perspektif Global

Ubuntu juga menginspirasi gerakan kemanusiaan dan sosial di luar Afrika Selatan, termasuk konsep “humanity towards others” dalam etika global.

Jadi, Ubuntu bukan hanya kata-kata, tapi filosofi hidup yang mengajak kita untuk satu untuk semua, semua untuk satu

Dalam Dasar Negara Republik Indonsia Pancasila yang berbunyi: 

“Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”

Apa Maknanya?

- Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab:

 - Adil Setiap orang diperlakukan sama di hadapan hukum, tanpa diskriminasi.

- Beradab Menghormati martabat manusia, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan menjauhi tindakan yang merendahkan orang lain.

Konteks Filosofis

Frasa ini mencerminkan semangat Pancasila sebagai dasar negara. Bung Karno dan para pendiri bangsa ingin Indonesia berdiri di atas prinsip kemanusiaan universal, yang sejalan dengan nilai-nilai seperti Ubuntu di Afrika Selatan “Saya ada karena kita ada.”

Implementasi di Indonesia

- Undang-undang HAM: Perlindungan hak asasi, pengadilan HAM, dll.

- Program Sosial: Kartu kesehatan, bantuan pendidikan, untuk menjamin keadilan sosial.

- Pendidikan Karakter: Menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi sejak dini.

Perbandingan dengan Ubuntu

Meski konteksnya berbeda, keduanya sama-sama mengutamakan kemanusiaan kolektif dan kesatuan sebagai fondasi masyarakat.

Dalam kaitan ke Indonesiaan menyangkut konflik Politik masa lalu, mengapa tidak mengambil contoh ubuntu dan kebesaran hati Nelson Mandela dan Uskup Agung Desmon Tutu? Bukan kah Antara Budaya Ubuntu dan Pancasila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa, sejalan dan seirama dalam kontek Kemanisiaan yang adil dan beradap? Mengapa para elit politik tidak legowo dan berlapang dada, bukan kah pada ajaran kepemimpinan dari Raja jawa Pakubuwono ke V dalam serat Wulang reh juga mengajarkan: 

Den ajembar 

den Momot 

lawan Den Wengku

den Koyo Segoro 

Den Ajembar : Senantiasa melapangksn hati dan pikiran kita dengan penuh rasa kemanusian yang berorientasi penuh kasih dan sayang terhadap sesama

Den Momot : agar diri kita bisa memuat berbagai aspirasi baik dari bawahan , teman sejawat maupun atasan, dengan lapang dada 

Lawan den wengku : harus bisa melawan ego keinginan pribadi untuk kepentingan yang lebih luas dan besar 

Den Koyo Segoro ; dengan demikian diri kita bisa menjadi pribadi yang punya wawasan hati pikiran dan keilmuan seluas samudera 

Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah Bangsanya. Tinggal di Jakarta

0

Posting Komentar