166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Indonesia Memposisikan Netral dalam Kasus Taiwan, Sebagai Implementasi Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Oleh   : Agus Widjajanto 
.
Jakarta, retorika.space~Indonesia memang dikenal sebagai negara yang memiliki kebijakan luar negeri bebas aktif dan non-blok, yang berarti Indonesia tidak berpihak pada blok tertentu dalam konflik global. Ini merupakan prinsip dasar kebijakan luar negeri Indonesia sejak masa kemerdekaan.

Indonesia memang dikenal sebagai negara yang memiliki kebijakan luar negeri bebas aktif dan non-blok, yang berarti Indonesia tidak berpihak pada blok tertentu dalam konflik global. Ini merupakan prinsip dasar kebijakan luar negeri Indonesia sejak masa kemerdekaan.

Prinsip Non-Blok:


- Kemerdekaan: Indonesia memilih untuk tidak terikat pada blok tertentu untuk menjaga kedaulatan dan kemerdekaannya.

- Netralitas: Indonesia berusaha untuk tetap netral dalam konflik global, tidak berpihak pada salah satu pihak.

- Kerjasama: Indonesia aktif dalam kerjasama internasional, terutama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya.


Contoh Implementasi:


- Konferensi Asia-Afrika (1955): Indonesia menjadi tuan rumah konferensi ini, yang bertujuan untuk memperkuat kerjasama antara negara-negara Asia dan Afrika.

- Gerakan Non-Blok (1961): Indonesia menjadi salah satu pendiri gerakan non-blok, yang bertujuan untuk mempromosikan kerjasama dan netralitas di antara negara-negara berkembang.

- UNPK (United Nations Peacekeeping): Indonesia aktif dalam misi penjaga perdamaian PBB, menunjukkan komitmennya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas global.


Dengan demikian, Indonesia terus memposisikan diri sebagai negara non-blok, menjaga netralitas dan kerjasama internasional untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas global.


Seperti diberitakan akhir akhir ini pemerintahan Prabowo Subiyanto tetap memegang teguh prinsip prinsip negara non blok yang netral, dimana indonesia dalam kasus Taiwan tetap memegang Teguh One China Police dan hanya mengakui taiwan sebagai bagian dari kedaulatan Republik Rakyat Tiongkok. 


Posisi Indonesia selalu menjaga hubungan baik dengan Jepang, Amerika Serikat, dan negara negara yang bersebrangan dengan China menyangkut posisi Taiwan sebagai negara non blok, yang merupakan manifestasi dari politik Luar Negeri bebas aktif 


Taiwan sendiri hingga saat ini tidak memiliki Kedutaan besar di jakarta. Dimana Taiwan memiliki perwakilan diplomatik di Jakarta, Indonesia, yang dikenal sebagai Taipei Economic and Trade Office (TETO). Alamatnya adalah di Gedung Artha Graha, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190. TETO berfungsi untuk memperkuat hubungan bilateral antara Taiwan dan Indonesia, serta memberikan layanan konsuler bagi warga negara Taiwan yang berada di luar negeri


Layanan yang Disediakan:


- Layanan Paspor

- Penerbitan Visa untuk Warga Negara Asing

- Bantuan dalam Keadaan Darurat Hukum atau Medis

- Peringatan Perjalanan dan Pembaruan Keamanan

- Dukungan untuk Warga Negara yang Ditahan di Luar Negeri


 Bahwa Taiwan tidak memiliki kedutaan besar resmi di Jakarta karena status politiknya yang unik, namun TETO berfungsi sebagai perwakilan diplomatik Taiwan di Indonesia.


Seperti dikutip dari Reuter, Parade mikiter China tiongkok di lapangan Tiananmen, yang dirancang untuk menunjukan kekuatan militer china kepada dunia dan strategi deplomasi china kepada seluruh dunia, menanggapi  atas keputusan presiden Amerika Serikat Dinald Trump, soal tarif persaingan dagang yang salah satunya kepada china. 


Pemimpin china dalam pidato devile militer dilapangan tiananmen menyatakan bahwa hari ini umat manusia dihadapkan pada dua pilihan antara perang dan damai, antara dialog dan kinfrintasi mikiter dan dagang, saling menguntungkan atau merugikan, dimana rakyat china berdiri teguh kepada yang benar dalam sejarah. 


Alutsusta yang dipamerkan tidak main main,  seperti Dongfeng 5 C rudal nuklir antar benua, dron bawah laut yang mampu menyelam 20 meter, pesawat j 20 siluman dan rudal rudal taktis yang seperti nya nenunjukan pada dunia bahwa china siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk untuk meladeni peperangan demi penyatuan taiwan dalam satu wilayah dengan  daratan sebagai satu negara. 


Dalam Laporan Global Fire Power ,(GFP) 2025 menempatkan china sebagai salah satu dari lima kekuatan militer terbesar di dunia , yang mana china nenempati peringkat ke tiga , dari 145 negara di dunia. 


Menilik para analisis militer dan pertahanan di jepang dan dunia, apabila china benar benar menyerang taiwan maka langkah yang akan diambil adalah menyerang okinawa jepang terlebih dahulu, dan hal ini apabila benar terjadi maka strategi militer saat perang dunia kedua dimana jepang menyerang hawai amerika serikat akan terulang. 


Serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 adalah peristiwa yang memicu Perang Pasifik. Beberapa alasan di balik serangan ini:


- Ekspansi Jepang: Jepang ingin memperluas wilayah kekuasaannya di Asia Pasifik, termasuk Cina, Asia Tenggara, dan Pasifik.

- Sumber daya alam: Jepang membutuhkan sumber daya alam, seperti minyak dan karet, untuk menopang ekonominya.

- Blokade ekonomi AS: Amerika Serikat memberlakukan embargo ekonomi terhadap Jepang, termasuk larangan ekspor minyak, yang sangat mempengaruhi ekonomi Jepang.

- Strategi militer: Jepang ingin melemahkan armada Pasifik AS untuk mencegah campur tangan AS dalam ekspansi Jepang di Asia Pasifik.


Serangan ke Pearl Harbor adalah upaya Jepang untuk melumpuhkan armada AS dan memberikan Jepang waktu untuk mengamankan sumber daya alam dan wilayah di Asia Pasifik. Namun, serangan ini justru memicu AS untuk memasuki Perang Dunia II dan mengubah jalannya perang.


Analisis militer tentang kemungkinan China menyerang pangkalan Amerika di Okinawa, Jepang, sebelum menyerbu Taiwan adalah topik yang kompleks dan sensitif.


Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan:


- Strategi China: China memiliki ambisi untuk menyatukan Taiwan dengan daratan utama, dan kemungkinan besar mereka akan fokus pada Taiwan terlebih dahulu.

- Keterlibatan AS: Amerika Serikat memiliki komitmen untuk membantu Taiwan mempertahankan diri, dan pangkalan di Okinawa adalah salah satu lokasi strategis AS di Asia Pasifik.

- Risiko Eskalasi: Serangan China terhadap pangkalan AS di Okinawa dapat memicu eskalasi konflik yang tidak terkendali, termasuk kemungkinan keterlibatan Jepang dan negara-negara lain di kawasan.

- Kesiapan Militer: China telah meningkatkan kemampuan militernya dalam beberapa tahun terakhir, tetapi AS dan sekutunya masih memiliki keunggulan militer yang signifikan di kawasan.


Beberapa kemungkinan skenario:


- Serangan terhadap Taiwan: China dapat memilih untuk menyerang Taiwan secara langsung, dengan harapan AS tidak akan campur tangan.

- Serangan terhadap pangkalan AS: China dapat memilih untuk menyerang pangkalan AS di Okinawa sebagai upaya untuk melemahkan kemampuan AS untuk membantu Taiwan.

- Diplomasi dan sanksi: Dunia internasional dapat meningkatkan tekanan diplomasi dan sanksi terhadap China jika mereka memilih untuk menyerang Taiwan atau pangkalan AS.


Namun, perlu diingat bahwa perang antara China dan AS/Taiwan masih bisa dihindari jika diplomasi dan dialog dapat dilakukan dengan efektif


Namun apapun yang terjadi dunia saat ini tidak baik baik saja, dibelahan dunia lain, Rusia  telah memperingatkan negara negara eropa bahwa rusia tidak punya keinginan untuk perang dengan eropa, namun jika eropa memprovokasi dan menginginkan perang maka Rusia siap meladeni, artinya situasi ini bisa meletus setiap saat yang dipicu hal sepele seperti hal nya  pemicu meletus nya perang dunia pertama dan kedua yang tertulis dalam sejarah.


 Rusia saat ini berkeinginan  menyatukan kembali wikayah bekas Uni Sofyet dulu dengan menyetang Georgia, dan Ukraina, demikian juga israil menyerang hamas dan israel menyerang iran dan iran membalas menyerang Israel dengan Rudal jarak jauh, ke kota kota israel, jadi apapun yang terjadi bukan tidak mungkin kawasan Indo Pasifik yang diprediksi sebagai kekuatan ekonomi dunia, akan jadi wilayah peperangan, setelah terbentuk nya aliansi pertahanan AUKUS yakni Australia, United King Dom, dan Amerika Serikat yang disadari maupun tidak telah memicu perlombaan senjata di kawasan termasuk menaikan belanja militer nya secara signifikan dalam menghadapi kemungkinan terburuk untuk melindungi kepentingan nasionalnya. 


Demikian juga Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan terkuat di Asean, harus membangun kekuatan militer nya dengan sistem Pertahanan Rakyat Semesta nya untuk melindungi halaman depan maupun belakang nya yakni natuna, yang menghadap langsung laut china selatan. 


Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik serta petahanan



Posting Komentar

Posting Komentar