Jakarta, retorika.space~"Situs Gunung Padang , Agama Kapitayan dan Sunda Land atau benua yang hilang dimana penulis mencoba menarik benang merah, tentang hubungan antara situs arkeologi Gunung Padang, agama kuno Kapitayan, dan teori tentang benua yang hilang, Sunda Land.
Berdasarkan penemuan-penemuan arkeologi di Gunung Padang, yang diyakini sebagai salah satu situs prasejarah tertua di Indonesia, dan hubungannya dengan agama Kapitayan yang diyakini sebagai agama kuno masyarakat Jawa. Selain itu, tulisan ini juga akan membahas tentang teori Sunda Land, yang diyakini sebagai benua yang hilang yang pernah ada di Asia Tenggara.
Situs Gunung Padang adalah sebuah situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitik yang terletak di Cianjur, Jawa Barat. Batu-batu besar yang tersusun berundak dalam situs ini sebagian besar adalah batuan vulkanik alami yang terbentuk dari proses geologi gunung api purba Karyamukti.
Menurut penelitian geologi, batuan-batuan ini terbentuk dari proses pendinginan lava yang kemudian membentuk struktur kolom-kolom batuan. Proses geologi seperti erosi dan pelapukan kemudian membentuk batuan-batuan ini menjadi lebih renggang dan roboh, sehingga dapat ditata oleh manusia purba menjadi punden berundak.
Namun, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa situs Gunung Padang merupakan sebuah piramida besar yang dibangun oleh manusia purba sekitar 9.000 hingga 20.000 tahun yang lalu. Pendapat ini masih diperdebatkan dan belum terbukti secara ilmiah
Bahwa batu-batu besar yang tersusun berundak dalam situs Gunung Padang sebagian besar adalah batuan vulkanik alami, namun ada kemungkinan bahwa manusia purba telah menata dan mengolahnya menjadi struktur yang lebih kompleks.
Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, ternyata lebih tua dari Piramida Giza di Mesir! Menurut hasil uji laboratorium, situs megalitikum ini sudah berdiri sejak 6.000 SM, sedangkan Piramida Giza dibangun sekitar 2.500 SM.
Jadi, Situs Gunung Padang memang lebih tua sekitar 3.500 tahun dari Piramida Giza.
Bahwa penemuan dan penelitian Situs Gunung Padang dapat membantu menguak sejarah kebudayaan Sunda Land, terutama tentang peradaban masa lalu di wilayah Jawa Barat. Situs ini memberikan informasi tentang kehidupan masyarakat prasejarah di wilayah tersebut, termasuk tentang kepercayaan, teknologi, dan kebudayaan mereka.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Situs Gunung Padang memiliki hubungan dengan kebudayaan Sunda Land, seperti:
1. Kepercayaan: Situs ini memiliki struktur yang mirip dengan punden berundak, yang merupakan tempat ibadah masyarakat Sunda kuno.
2. Teknologi: Penemuan alat-alat batu dan logam di situs ini menunjukkan tingkat teknologi yang cukup maju pada masa itu.
3. Kebudayaan: Situs ini juga memberikan informasi tentang kebudayaan Sunda Land, seperti tentang kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat pada masa itu.
Dengan demikian, penemuan dan penelitian Situs Gunung Padang dapat membantu memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah kebudayaan Sunda Land dan peradaban masa lalu di wilayah Jawa Barat.
Sedangkan Sunda Land adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan wilayah daratan yang pernah ada di Asia Tenggara pada masa lalu. Wilayah ini meliputi sebagian besar wilayah Indonesia, Malaysia, dan Filipina, serta sebagian kecil wilayah Thailand dan Vietnam.
Teori Sunda Land dikembangkan oleh ahli geologi dan paleontologi Belanda, bernama Sunda, pada awal abad ke-20. Namun, teori ini lebih banyak dipopulerkan oleh ahli geologi dan paleontologi Australia, bernama Stephen Oppenheimer, dalam bukunya "Eden in the East: The Drowned Continent of Southeast Asia" (1998).
Menurut teori Sunda Land, pada masa lalu, wilayah Asia Tenggara adalah sebuah daratan yang luas dan terhubung dengan daratan Asia. Daratan ini diperkirakan ada sekitar 20.000 tahun yang lalu, pada masa Pleistosen. Pada saat itu, permukaan laut lebih rendah daripada sekarang, sehingga wilayah yang sekarang menjadi laut dangkal di Asia Tenggara adalah daratan.
Sunda Land diperkirakan menjadi tempat asal bagi beberapa kebudayaan dan peradaban kuno di Asia Tenggara, termasuk kebudayaan Sunda di Jawa Barat. Namun, teori ini masih diperdebatkan dan belum terbukti secara ilmiah.
Bahwa dalam wilayah teritorial benua yang hilang yang oleh ahli disebut daratan Sunda Land atau benua yang terhampar yang hilang sesungguh nya telah kepercayaan yang disebut Agama Kapitayan memang merupakan kepercayaan kuno yang diyakini berasal dari Nusantara, khususnya Jawa. Meskipun tidak ada bukti langsung yang menghubungkan Kapitayan dengan bangsa Le Moria, ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa Kapitayan mungkin memiliki akar yang sama dengan kepercayaan kuno lainnya di dunia.
Kapitayan sendiri merupakan agama monoteistik yang percaya pada Sang Hyang Taya, yaitu Tuhan yang Maha Esa dan tidak dapat dilihat atau dibayangkan. Agama ini memiliki nilai-nilai luhur seperti penghormatan terhadap leluhur, keseimbangan alam, dan keharmonisan dengan lingkungan.
Beberapa ahli sejarah dan antropologi menyebutkan bahwa Kapitayan mungkin memiliki hubungan dengan kepercayaan kuno lainnya di Asia Tenggara, seperti agama Sunda Wiwitan di Jawa Barat atau agama Kaharingan di Kalimantan. Namun, perlu diingat bahwa teori ini masih diperdebatkan dan belum terbukti secara ilmiah.
Dalam konteks bangsa Le Moria, tidak ada bukti langsung yang menghubungkan mereka dengan Kapitayan. Namun, beberapa teori menyebutkan bahwa bangsa Le Moria mungkin memiliki hubungan dengan peradaban kuno lainnya di dunia, seperti peradaban Mesir Kuno atau peradaban India Kuno.
Jadi, meskipun tidak ada bukti langsung, ada kemungkinan bahwa Kapitayan memiliki akar yang sama dengan kepercayaan kuno lainnya di dunia, termasuk bangsa Le Moria. Namun, perlu diingat bahwa teori ini masih diperdebatkan dan belum terbukti secara ilmiah. Yang pasti jawa dan daratan Sunda Land mempunyai peradapan sangat tinggi ribuan tahun sebelum masehi dan jauh sebelum lahir nya agama agama besar di dunia yang sekarang jadi pedoman manusia di muka bumi di era modern.
Dalam agama Kapitayan, tidak ada konsep nabi seperti dalam agama-agama Abrahamik. Namun, ada beberapa tokoh yang dianggap sebagai perantara antara manusia dan Sang Hyang Taya (Tuhan Maha Esa), salah satunya adalah Semar.
Semar adalah tokoh yang sangat dihormati dalam kebudayaan Jawa, terutama dalam agama Kapitayan. Dia dianggap sebagai perwujudan dari Sang Hyang Taya yang turun ke bumi untuk membantu manusia. Semar juga dianggap sebagai leluhur dan pel protector masyarakat Jawa.
Dalam tradisi Jawa, Semar sering dikaitkan dengan konsep "Sang Hyang Ismoyo", yang berarti "Tuhan yang tidak dapat dilihat". Semar dianggap sebagai perwujudan dari Sang Hyang Ismoyo, yang merupakan aspek dari Tuhan yang tidak dapat dilihat atau dibayangkan.
Jadi, Semar dapat dianggap sebagai salah satu tokoh yang sangat dihormati dalam agama Kapitayan, namun tidak secara langsung sebagai nabi. Lebih tepatnya, Semar adalah perantara antara manusia dan Sang Hyang Taya, serta sebagai simbol kebijaksanaan dan keadilan.
Dengan demikian para ahli yang menyatakan jawa khususnya dan wilayah Sunda land umumnya sebelum agama besar datang dikatakan belum beragama kecuali kepercayaan animisne dan dinamisme , agak nya tidak tepat. Dan perlu dilakukan rekontruksi ulang dalam penulisan sejarah khusus nya menyangkut kepercayaan, yang didasari dari agama kapitayan.
Bahwa sejarah yang belum terungkap secara lengkap tentang hingga di era tehnologi modern saat ini dimana Jawa memang memiliki sejarah peradaban yang sangat panjang dan kaya, bahkan ribuan tahun sebelum tahun Masehi. Situs-situs arkeologi seperti Gunung Padang, Borobudur, dan Prambanan menunjukkan bahwa Jawa telah memiliki peradaban yang maju dan kompleks sejak zaman prasejarah.
Kebudayaan Jawa kuno telah memiliki sistem kepercayaan, pemerintahan, dan teknologi yang canggih, seperti yang terlihat dari peninggalan-peninggalan arkeologi dan naskah-naskah kuno. Bahkan, beberapa ahli sejarah dan arkeologi percaya bahwa Jawa mungkin merupakan salah satu pusat peradaban tertua di dunia.
Jadi, tidak heran jika Jawa memiliki warisan budaya dan sejarah yang sangat kaya dan beragam, yang terus dipelajari dan diapresiasi oleh masyarakat dunia.
Hal ini bisa jadi pembelajaran bagi generasi muda atau generasi Z dimana harus merasa bangga bahwa bangsa ini telah dikaruniai budaya dan peradaban sangat tinggi jauh sebelum lahir nya agama agama besar baik samawiah ataupun agama dari hindustan India, dengan belajar sejarah bangsa nya maka wawasan generasi muda akan terbuka bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar yang sedang tidur panjang , dan harus dibangunkan agar dapat berkiprah sesuai masa kejayaan seperti jaman nenek moyang kita dahulu,
Penulis adalah pemergati masalah sosial budaya dan sejarah bangsanya.



Posting Komentar