166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Penerima Beasiswa Study keluar Negeri dan Nasionalisme Yang Luntur

Oleh : Agus Widjajanto 

Retorika.space - Di media sosial lagi viral, dan ramai diperbincangkan, dimana ada seorang wanita Indonesia yang telah kawin di luar negeri, dan wanita ini adalah penerima beasiswa LPDP dari pemerintah yang dibiayai dari uang pajak rakyat, yang melukai rasa nasionalis dan harga diri bangsa, yang dulu diperjuangkan dengan darah air mata, nyawa dari para pejuang agar bisa merdeka, sejajar dengan bangsa lain. Viral tersebut menunjukan begitu rendah nya kesadaran Cinta tanah air berbangsa dan bernegara, yang bukan saja kesalahan dari pribadi tapi juga didikan orang tua dan kita semua sebagai anak bangsa. 


Penerima beasiswa LPDP yang jelek-jelekin bangsa sendiri memang sedang viral di media sosial. Kasus ini bermula dari pernyataan seorang alumni LPDP yang memamerkan paspor Inggris milik anaknya, dengan komentar "Cukup saya WNI, anak jangan". Pernyataan ini memicu reaksi keras dari warganet dan akademisi, yang menilai tindakan tersebut sebagai pengingkaran terhadap identitas nasional dan rasa cinta tanah air.


LPDP adalah program beasiswa yang didanai oleh uang rakyat, dengan tujuan mencetak SDM unggul yang akan membangun Indonesia. Oleh karena itu, penerima beasiswa LPDP diharapkan dapat kembali ke Indonesia dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa 


Kasus ini juga menyinggung kewajiban moral dan etika yang seharusnya diemban oleh para penerima beasiswa LPDP. Beberapa pihak berpendapat bahwa anak memiliki hak untuk memilih kewarganegaraannya sendiri, namun orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air kepada anak sejak dini.


Pihak LPDP dan pemerintah telah memberikan tanggapan terkait isu ini, dengan menyatakan bahwa mereka akan melakukan evaluasi dan mengambil tindakan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku


Seperti kita tahu bahwa Oxford University menawarkan beberapa beasiswa untuk pelajar internasional, termasuk Indonesia. Beberapa contoh beasiswa yang tersedia adalah

- Beasiswa Chevening: Beasiswa dari Pemerintah Inggris untuk lulusan S1 yang ingin melanjutkan studi S2 di Inggris.

- Beasiswa LPDP: Beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan untuk pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi S2 atau S3 di luar negeri, termasuk Oxford University.

- Beasiswa Clarendon: Beasiswa dari Oxford University untuk pelajar internasional yang ingin melanjutkan studi S2 atau S3 di universitas tersebut.

- Beasiswa CIMB ASEAN Scholarship: Beasiswa dari Bank CIMB untuk pelajar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang ingin melanjutkan studi di universitas luar negeri.


Tiongkok sebelum mencapai kemajuan seperti saat ini melalui refolusi kebudayaan dimana pemimpin china saat itu, yakni Deng Xiaoping memang dikenal sebagai salah satu pemimpin China yang berhasil mengubah negaranya menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Pada tahun 1978, Deng Xiaoping meluncurkan program "Reformasi dan Pembukaan" yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi China dan membuatnya lebih terbuka terhadap dunia luar.


Salah satu langkah yang diambil oleh Deng Xiaoping adalah mengirimkan ribuan mahasiswa China ke luar negeri untuk belajar ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru. Mahasiswa-mahasiswa ini kemudian diharapkan dapat kembali ke China dan membantu membangun industri dan ekonomi negara tersebut.


Strategi ini terbukti sangat sukses, karena mahasiswa-mahasiswa China yang belajar di luar negeri kemudian kembali ke negara mereka dan membawa serta pengetahuan, keterampilan, dan jaringan internasional yang mereka peroleh. Mereka kemudian menjadi pemimpin-pemimpin industri dan pemerintah yang membantu China mencapai kemajuan ekonomi yang pesat.


Deng Xiaoping juga menekankan pentingnya belajar dari pengalaman negara lain dan mengadopsi teknologi dan ide-ide baru untuk meningkatkan ekonomi China. Ia juga mendorong investasi asing dan kerjasama internasional untuk membantu China mencapai tujuannya.


Contoh Deng Xiaoping ini dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dan mencapai kemajuan ekonomi. Dengan mengirimkan mahasiswa ke luar negeri untuk belajar dan kemudian kembali ke Indonesia, kita dapat membangun industri dan ekonomi yang lebih kuat dan kompetitif.


Namun, perlu diingat bahwa keberhasilan China juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kebijakan ekonomi yang tepat, investasi infrastruktur, dan dukungan pemerintah. Olehb karena itu, kita perlu mempelajari dan mengadaptasi strategi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia.


Jaman Pemerintahan Orde Lama pun Presiden Soekarno juga mengirim ratusan mahasiswa ke eropa timur Rusia, untuk belajar, demikian juga saat Orde Baru, dimana telah menghasilkan tokoh tokoh ekonomi yang dikenal dengan lulusan barclay university, adalah sebagai upaya untuk bagaimana alumni yang telah selesai belajar di luar negeri bisa membangun bangsa ini, untuk pengabdian nya .


Contoh mahasiswa penerima beasiswa LPDP yang jelek-jelekin bangsa sendiri memang menunjukkan bahwa membangun karakter bangsa yang dimulai dari didikan orang tua telah gagal dalam beberapa kasus. Didik anak tidak hanya tentang memberikan pendidikan formal, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan cinta tanah air.


Dalam kasus ini, orang tua yang seharusnya menjadi contoh bagi anaknya, malah menunjukkan perilaku yang tidak pantas dan tidak patriotis. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya tentang apa yang diajarkan di sekolah, tetapi juga tentang apa yang dipraktikkan di rumah.


Pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang nilai-nilai dan norma-norma. Orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi anaknya, dengan menunjukkan perilaku yang positif dan patriotis.


Namun, kita juga harus mengakui bahwa pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab orang tua, tetapi juga tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya juga harus memainkan peran penting dalam membentuk karakter anak.


Dalam konteks ini, LPDP sebagai lembaga yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia, juga harus mempertimbangkan aspek pendidikan karakter dalam proses seleksinya. Mereka harus memastikan bahwa penerima beasiswa LPDP tidak hanya memiliki kemampuan akademis yang baik, tetapi juga memiliki karakter yang baik dan cinta tanah air.


Untuk itu perlu dipikirkan saat ini dimana harus  Membuat regulasi yang mewajibkan penerima beasiswa pemerintah untuk kembali ke negara asal setelah selesai pendidikan di luar negeri dapat membantu memastikan bahwa investasi pendidikan yang diberikan oleh pemerintah dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara dan masyarakat.


Beberapa alasan yang mendukung ide ini adalah:


- Pengembalian investasi: Beasiswa yang diberikan oleh pemerintah adalah uang pajak dari rakyat, sehingga wajar jika pemerintah meminta penerima beasiswa untuk kembali ke negara asal dan memberikan kontribusi bagi pembangunan negara.

- Keterampilan dan pengetahuan: Penerima beasiswa telah memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang berharga di luar negeri, dan diharapkan dapat menggunakan keahlian tersebut untuk membantu memajukan negara asal.

- Pembangunan nasional: Dengan kembalinya penerima beasiswa ke negara asal, maka dapat membantu meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia di negara tersebut, yang pada akhirnya dapat membantu memajukan pembangunan nasional.


Namun, perlu diingat bahwa regulasi ini harus dibuat dengan hati-hati dan mempertimbangkan beberapa hal, seperti:


- Kebebasan individu: Penerima beasiswa harus memiliki kebebasan untuk memilih tempat tinggal dan bekerja setelah selesai pendidikan.

- Kesempatan kerja: Pemerintah harus memastikan bahwa ada kesempatan kerja yang tersedia bagi penerima beasiswa yang kembali ke negara asal.

- Kondisi negara: Jika kondisi negara asal tidak kondusif bagi penerima beasiswa untuk kembali, maka regulasi ini mungkin tidak efektif.


Contoh negara yang telah menerapkan regulasi serupa adalah Singapura, yang mewajibkan penerima beasiswa pemerintah untuk kembali ke negara asal dan bekerja selama beberapa tahun setelah selesai pendidikan.


Tujuan dari diberikan beasiswa ke luar negeri dari pemerintah adalah agar penerima beasiswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang dapat membantu meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia di negara asal.


Dengan demikian, penerima beasiswa dapat memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara dengan cara:


- Meningkatkan ekonomi: Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, penerima beasiswa dapat membantu meningkatkan ekonomi negara dengan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan mengembangkan industri.

- Meningkatkan politik: Penerima beasiswa dapat membantu meningkatkan politik negara dengan memberikan kontribusi bagi pembangunan demokrasi, meningkatkan kesadaran politik, dan membantu menciptakan kebijakan yang lebih baik.

- Meningkatkan budaya: Penerima beasiswa dapat membantu meningkatkan budaya negara dengan memperkenalkan budaya negara asal ke dunia internasional, serta membantu melestarikan dan mengembangkan budaya negara asal.


Dengan demikian, tujuan dari diberikan beasiswa ke luar negeri dari pemerintah adalah untuk menciptakan generasi yang lebih baik, yang dapat membantu meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia di negara asal, serta memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.


Namun, seperti yang kita lihat dari contoh sebelumnya, tidak semua penerima beasiswa dapat memenuhi harapan ini. Oleh karena itu, pemerintah harus terus memantau dan mengevaluasi program beasiswa, serta membuat regulasi yang lebih efektif untuk memastikan bahwa penerima beasiswa dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi bangsa dan negara.


Untuk itu  perlu dipertimbangkan. Jika penerima beasiswa LPDP tidak memenuhi kewajiban mereka untuk kembali ke Indonesia dan memberikan kontribusi bagi bangsa, maka mereka harus bertanggung jawab atas biaya yang telah dikeluarkan oleh negara.


Pencekalan permanen dan Mencabut Kewarganegaraan  dan pengembalian biaya beasiswa dapat menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa penerima beasiswa LPDP memenuhi kewajiban mereka. Namun, perlu diingat bahwa keputusan ini harus dibuat dengan hati-hati dan mempertimbangkan beberapa hal, seperti:


- Keadilan: Apakah keputusan ini adil bagi penerima beasiswa yang telah memenuhi kewajiban mereka?

- Efektivitas: Apakah keputusan ini efektif dalam mencegah penerima beasiswa LPDP tidak memenuhi kewajiban mereka?

- Dampak: Apakah keputusan ini memiliki dampak yang tidak diinginkan, seperti merusak reputasi Indonesia di mata internasional?


LPDP harus memiliki mekanisme yang jelas dan transparan untuk menangani kasus-kasus seperti ini, serta memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi bangsa dan negara.


Contoh regulasi yang serupa dapat dilihat pada beberapa negara, seperti Singapura yang memiliki kebijakan "bond" bagi penerima beasiswa pemerintah. Jika penerima beasiswa tidak memenuhi kewajiban mereka, maka mereka harus membayar kembali biaya beasiswa yang telah dikeluarkan.


Pembelajaran bagi generasi Milenial, bijak lah dalam menggunakan media sosial, memang dengan kemajuan tehnologi komunikasi seakan tiada sekat batas negara, namun Sebagai anak bangsa dan tumpah darah, maka rasa nasionalis me tetap harus dijaga karena itu yang memvedakan kita denngan bangsa lain, baik karakteristik, budaya, bahasa, adat istiadat dan ras sebagai bangsa. 


Belum lagi fenomena di media sosial tik tok, yang dipenuhi dengan berbagai generasi baik muda bahkan tua berjoged joged, hanya untuk mencari validasi, adalah hal yang sangat memprihatinkan, bagi pembangunan katakter anak bangsa, memberikan contoh dan suri tauladan yang tidak elok, sudah hilang katakter Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso sung tulodo, dan ini tugas kita semua untuk berbenah diri agar generasi Z lebih tahu sejarah bangsa nya, karakter bangsanya, dan budaya bangsanya, untuk Indonesia kedepan, karena hancurnya negara selalu di mulai dari dalam. 


Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya

0

Posting Komentar