Retorika.space - Nenek moyang telah meninggalkan warisan luhur yang tidak pernah dimiliki oleh bangsa-bangsa lain, berupa ajaran dan laku luhur sesuai karakter bangsa ketimuran yang beradab. Salah satunya adalah ajaran luhur yang diajarkan lewat pitutur lisan yang dikenal dengan ajaran Luhur Sastro Jendro Hayuningrat.
Sastro Jendro Hayuningrat itu kitab strateginya, atau buku manual para raja Jawa untuk memenangkan perang pikiran, jauh sebelum The Art of War diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Luruskan dulu agar terang sejarahnya. Apa itu Sastro Jendro Hayuningrat?
Arti harfiah: Sastro adalah ilmu atau tulisan, Jendro adalah raja agung, Hayu adalah keselamatan atau keindahan, dan Ningrat adalah dunia. Jadi, Ilmu Raja Agung untuk Keselamatan Dunia.
Bukan kitab fisik, tetapi ilmu laku. Tidak ada naskah tunggal seperti Negarakertagama. Sastro Jendro adalah ajaran lisan dan olah batin tingkat tinggi di kalangan raja, resi, dan kesatria Jawa. Diwariskan lewat laku, bukan lewat teks. Ilmunya dijaga dan hanya diberikan kepada yang siap.
Isi pokok: cara membaca tanda zaman, watak manusia, dan gelombang kekuasaan. Tujuannya agar pemimpin mampu membuat rakyat ayem, negara hayu, dan musuh tunduk tanpa perang.
Fungsi sebagai Media Pengajaran Kepemimpinan dan Kritik Sosial:
1. Aspek Kepemimpinan
Pemimpin harus weruh sakdurunge winarah, yaitu tahu sebelum kejadian. Tidak reaktif, tetapi mampu membaca pola.
Sultan Agung tidak langsung menyerang VOC. Ia mengirim telik sandi dan mempelajari kompeni selama bertahun-tahun sebelum menyerang Batavia pada 1628.
Relevansi saat ini, pemimpin tidak boleh reaktif terhadap arus informasi. Ia harus mampu membaca apakah suatu isu nyata atau sekadar opini yang digerakkan.
2. Aspek Kritik Sosial
Menggunakan semu, sanepan, dan kiasan seperti wayang, serat, dan tembang. Kritik disampaikan secara halus, tetapi tajam.
Serat Kalatidha karya Ranggawarsita menggambarkan “zaman edan” untuk menyindir kondisi sosial tanpa konfrontasi langsung.
3. Aspek Perang Pikiran
Menang tanpa merendahkan. Menaklukkan hati, bukan benteng. R.M. Sosrokartono tidak berkonfrontasi keras, tetapi membangun pemikiran yang kemudian memengaruhi Soekarno hingga gagasannya berdampak besar pada dunia internasional.
Mengapa Menjadi Pegangan Kesatria dan Raja Jawa?
Karena perang di Jawa lebih banyak merupakan perang batin. Raja yang hanya mengandalkan kekuatan fisik akan mudah runtuh. Sebaliknya, yang hanya mengandalkan kecerdasan tanpa karakter juga mudah goyah.
Sastro Jendro mengajarkan keseimbangan digdaya tanpa aji, yaitu kekuatan yang lahir dari pemahaman rasa, ketelitian, dan pengetahuan mendalam.
Pengaruh ini terlihat pada kepemimpinan Soekarno yang mampu memengaruhi dunia melalui gagasan dan wibawa, bukan semata kekuatan material.
Kita juga melihat bagaimana Soeharto dikenal stabil dan berwibawa dalam memimpin. Hal ini tidak lepas dari kedalaman pemahaman terhadap ajaran luhur raja-raja Jawa, yang menekankan keseimbangan antara kekuatan, ketenangan, dan pengendalian diri dalam menjalankan kekuasaan.
Hubungannya dengan Kartini, Sosrokartono, dan Aktivisme:
R.M. Sosrokartono dapat disebut sebagai representasi modern dari penguasaan nilai-nilai ini. Ia memadukan pendidikan Barat dengan kebijaksanaan lokal.
R.A. Kartini memperoleh pengaruh pemikiran yang membentuk pandangannya. Gagasannya tentang pendidikan perempuan merupakan strategi sosial untuk kemajuan bangsa.
Dalam konteks kekinian, tugas kita bukan lagi seperti angkatan 45 yang memanggul senjata dalam perang fisik melawan kolonialisme. Zaman telah berubah. Perjuangan hari ini adalah melalui tulisan, media, dan pencerahan untuk melawan bentuk kolonialisme baru, termasuk dominasi pemikiran, pengaruh asing, serta sifat angkara murka yang merusak kehidupan bangsa.
Perang hari ini adalah perang gagasan dan kesadaran. Oleh karena itu, tulisan, pemikiran, dan narasi menjadi alat utama untuk membangun kemandirian bangsa dan memperkuat karakter masyarakat.
Pelajaran untuk Zaman Sekarang:
Sastro Jendro dapat menjadi fondasi pembentukan ketahanan karakter bangsa.
Pertama, kemampuan membaca pola dan memahami realitas secara utuh.
Kedua, kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara yang bijak dan tidak merusak.
Ketiga, orientasi pada kemaslahatan bersama sebagai tujuan utama.
Jika nilai-nilai ini diterapkan, maka masyarakat akan memiliki ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Pencucian Diri dan Perbaikan Moral:
Bangsa yang mengalami degradasi moral membutuhkan perbaikan dari dalam. Proses ini dimulai dari individu, baik pemimpin maupun rakyat.
Pencucian diri menjadi langkah penting untuk mengembalikan kejernihan hati dan pikiran dari pengaruh keserakahan, korupsi, dan sifat angkara murka yang berkembang secara masif.
Kesadaran untuk memperbaiki diri, mengendalikan hawa nafsu, serta menjunjung tinggi nilai kejujuran menjadi kunci utama dalam membangun kembali kekuatan bangsa.
Warisan Luhur dan Generasi Muda:
Ajaran ini merupakan ilmu tingkat tinggi yang tidak banyak dipahami. Namun, justru karena itu, generasi muda perlu mengenalnya sebagai bagian dari warisan budaya.
Dalam tradisi kerajaan, pemimpin disebut sebagai titisan dewa, bukan dalam arti harfiah, melainkan karena kemampuannya menjalankan nilai-nilai luhur yang selaras dengan keseimbangan alam atau memayu hayuning bawono.
Tokoh seperti Sultan Agung menjadi contoh pemimpin yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.
Sastro Jendro Hayuningrat adalah sistem nilai yang membentuk karakter kepemimpinan dan kehidupan bangsa. Ia menekankan keseimbangan antara pikiran, rasa, dan tindakan.
Sebagai intisari ajaran kepemimpinan dalam Sastro Jendro Hayuningrat, terdapat empat laku utama yang sering disebut sebagai Wulang Reh atau ajaran diri. Keempatnya menjadi fondasi pembentukan karakter pemimpin yang utuh.
Den Ajembar, yaitu seorang pemimpin harus memiliki keluasan hati dan pikiran. Ia tidak sempit dalam melihat persoalan, tidak mudah terjebak pada kepentingan jangka pendek, serta mampu memandang persoalan bangsa secara utuh dan menyeluruh.
Den Momot, yaitu kemampuan menampung dan mendengarkan aspirasi dari bawah, dari rakyat. Seorang pemimpin tidak boleh hanya bergantung pada laporan bawahan yang sering kali bias kepentingan. Ia harus turun memahami kenyataan, menyerap suara rakyat, dan menjadikannya dasar dalam mengambil keputusan.
Lawan Den Wengku, yaitu kemampuan untuk melawan dan mengendalikan ego serta ambisi pribadi. Kekuasaan tanpa pengendalian diri akan melahirkan kesewenang-wenangan. Karena itu, pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menaklukkan dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.
Den Koyo Segoro, yaitu mencapai keluasan jiwa dan kedalaman pandangan seperti samudra. Seorang pemimpin tidak mudah goyah, tidak mudah tersulut emosi, serta mampu menampung berbagai perbedaan tanpa kehilangan arah. Ia menjadi peneduh bagi rakyatnya.
Keempat ajaran ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal kekuasaan, tetapi tentang pembentukan diri. Ketika seorang pemimpin mampu menjalankan ajaran tersebut, maka ia tidak hanya kuat secara lahiriah, tetapi juga kokoh secara batiniah.
Dengan demikian, cita-cita kehidupan bangsa yang tenteram, sejahtera, dan berkeadilan bukanlah sekadar harapan, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan melalui kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai luhur.
*Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan sejarah bangsanya



Posting Komentar