166gda5P8JBiWKJQtoENvT1q58drvJKqaLA2JGMe
Bookmark

Bung Karno dan Soerjo Projo: Menakar Nasib Bangsa di Era Prabowo

Retorika space - Wawancara imajiner antara Bung Karno dengan Soerjo Projo (The Soerjo Projo Institute) menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo dan fenomena kondisi bangsa saat ini.

Wawancara dilakukan di sekitar Cikini, Jakarta Pusat, di mana Bung Besar (Soekarno), dengan ciri khasnya memakai peci hitam dan tongkat komandonya, duduk di sudut sofa sebuah kamar hotel bintang 4. 

Soerjo Projo duduk berhadapan untuk wawancara meminta pandangan Bung Karno selaku pendiri bangsa, proklamator, dan penggali Pancasila, yang dapat dirangkum sebagaimana berikut di bawah ini:

_“Selamat sore, Bapak Besar Revolusi. Bagaimana pandangan Bapak tentang dua tahun yang dicapai oleh Kabinet Merah Putih dari kepemimpinan Presiden Prabowo saat ini secara garis besar? Apakah bisa memberikan pandangan sebagai Bapak Bangsa, pendiri bangsa, proklamator, dan penggali Pancasila?”_

> “Selamat sore juga, cucuku Soerjo Projo. Gaya kepemimpinan anak ideologis saya, Prabowo Subianto, memang mirip-mirip saya saat menggelorakan perdamaian dunia, sesuai amanat Pembukaan UUD 1945, seperti halnya saat saya mencanangkan Gerakan Non-Blok dulu. Saya bangga anak ideologis saya, Prabowo, bisa membawa nama harum bangsa ini di kancah global, di mana dia sebagai tokoh sentral yang difasilitasi Amerika Serikat (Presiden Donald Trump) soal perdamaian di Gaza untuk tujuan berdirinya negara Palestina, namun harus tetap dalam koridor sebagai bangsa yang menganut politik luar negeri bebas aktif, jangan terjebak permainan negara adidaya yang sulit dipegang janjinya. 

> Memang secara astral saya selalu dorong untuk bagaimana bisa menjadi motor perdamaian dunia, di mana kita hidup di bumi dan langit yang sama, dan tentu jangan pernah meninggalkan nilai-nilai luhur bangsa sendiri. Jadi saya rasa cukup memuaskan untuk politik luar negeri dalam masa pemerintahan Prabowo, namun yang lebih penting adalah harus belajar dari mertuanya, yakni Soeharto, dahulukan memikirkan kondisi rakyat di dalam negeri.”

_“Pertanyaan selanjutnya, Bapak Proklamator, bagaimana soal kondisi bangsa ini yang korupsi sudah secara masif merajalela? Apa yang harus dilakukan oleh Presiden Prabowo?”_

> “Begini, saat pemerintahan saya tidak ada korupsi, karena saya memberikan contoh yang baik, hingga sampai wafat pun saya tidak punya rumah, yang ada adalah amanah pengabdian kepada bangsa ini. Di saat penghujung pemerintahan, ada menteri saya urusan Bank Sentral, yakni Teuku Yusuf Muda Dalam, saya perintahkan untuk diadili dan dihukum mati pada bulan September tahun 1966. Artinya, korupsi adalah bahaya laten yang harus diberantas hingga akar-akarnya. Namun ingat, para penegak hukum juga harus bersih. Jangan berharap menyapu lantai bisa bersih dengan sapu yang kotor. 

> Anak ideologis saya, Prabowo, harus berani bertindak tegas tanpa pandang bulu, beri mereka contoh terlebih dahulu bahwa sebagai pemimpin harus bersih, dan berani ambil kebijakan, kalau perlu mengubah sistem hukum dengan cara transplantasi hukum dengan sistem Anglo-Saxon dan hukum progresif. Generasi sekarang banyak anak-anak pintar dan cerdas, tapi sayang bermental bobrok, hanya cari keuntungan.”

_“Lalu bagaimana pandangan Bung Karno soal fenomena saat ini, di mana kehidupan rakyat makin sulit sementara yang kaya bertambah kaya?”_

> “Saya selalu bilang bahwa imperialisme modern bisa berubah wujud dan bentuk, tapi wataknya tetap imperialis. Musuh yang akan kita hadapi saat setelah merdeka adalah rakyat dan bangsa kita sendiri, yang berbau borjuis, ingin cari keuntungan, mabuk agama, dan budaya luar. Itu sudah saya katakan berkali-kali dan itu telah terbukti saat ini. Indonesia dimerdekakan untuk membentuk negara yang bisa melindungi seluruh rakyat, bukan golongan, bukan segelintir orang, tapi seluruh rakyat. 

> Maka saya bersama rekan-rekan seperjuangan ingin negara ini mencapai adil makmur, gemah ripah loh jinawi, bukan sebagai negara sosialis juga bukan sebagai negara liberal, tapi sebagai negara Pancasila yang berkultur kegotongroyongan berdasarkan ekonomi kerakyatan. Yang kaya bantu yang miskin, yang susah harus bekerja keras, memanfaatkan sumber daya alam untuk kemakmuran bersama. Itu sesungguhnya negara ini didirikan, bukan berkiblat kepada negara liberal.”

_“Lalu bagaimana mengatasi ketimpangan ini agar bisa mencapai Indonesia Emas pada tahun 2045 nanti, menurut Bung Besar?”_

> “Begini, kaum reformis tahun 1998 telah kebablasan. Ini yang saya katakan, kaum rakyat yang mabuk jabatan, mabuk ideologi luar, mabuk harta dan takhta hingga negara ini kehilangan arah dan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Dulu saat saya mengalami kesalahan membentuk kabinet 100 menteri, maka saya ubah melalui keputusan presiden, membentuk tiga partai politik yang sebenarnya cita-cita awal saya harusnya hanya ada dua partai politik, yakni partai nasionalis dan partai agamis. Namun karena perkembangan dunia saat itu secara geostrategis dan geopolitis terjadi perang dingin, maka saya setujui ditambah satu partai, yakni partai sosialis, hingga saya sebut disingkat NASAKOM. 

> Ini kalian harus belajar dari sejarah, jangan sekali-kali melupakan sejarah ya, Nak. Benar, Soeharto yang menggantikan saya membentuk tiga partai, yakni partai agamis, partai nasionalis, serta Golongan Karya saat itu, untuk lebih fokus dan konsolidasi secara nasional. Namun oleh rakyat yang mabuk tadi, seluruh sendi-sendi berbangsa dan bernegara dirobohkan menjadi multipartai dan pemilu langsung lagi, di mana pemilu langsung tidak pernah dikenal di negeri ini karena negeri ini dibentuk berdasarkan musyawarah mufakat. Itu keblinger namanya.”

_“Lalu bagaimana Bung melihat arah pembangunan saat ini, di mana setiap ganti presiden ganti kebijakan?”

> “Ini lebih parah lagi, ya, tadi yang saya katakan, kaum imperialis borjuis dari rakyat sendiri yang menghancurkan tatanan bangsa dan negara. Kan jelas dalam UUD 1945 Pasal 1 Ayat 2, bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah mewakili kedaulatan rakyat, yang terkoneksi dengan sila keempat dari Pancasila, yang berbunyi: ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan’, yang artinya demokrasi kita ini demokrasi Pancasila, bukan demokrasi liberal, di mana segala keputusan merupakan kebijaksanaan dalam perwakilan dengan cara musyawarah dan mufakat. 

> Makanya oleh pemerintahan Soeharto sudah tepat, tugas dan wewenang MPR adalah termasuk membentuk GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara), agar negara ini ada kompas, ada petunjuk ke mana arah yang mau dituju ke depan, baik untuk jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Siapapun presidennya harus dan wajib menjalankan garis-garis besar tersebut.”

_“Untuk mencapai pendidikan, pangan, sandang, dan papan murah seperti zaman Orde Baru dulu, menurut Bapak Proklamator dan pendiri bangsa, apa yang harus ditempuh?”_

> “Lakukan swasembada pangan, upayakan pupuk tersedia dengan cukup, hidupkan lagi Koperasi Unit Desa dan BUMDes sebagai sentral pinjaman para petani seperti zaman Soeharto dulu. Lalu tingkatkan produksi pertanian, efisiensi kementerian yang tidak perlu harus dipangkas, beri para petani dan nelayan modal biar bisa bekerja. Di sini saya juga memberi masukan konstruktif terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada prinsipnya, program ini sangat baik dan patut didukung karena menyangkut masa depan generasi muda Indonesia, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas gizi, kesehatan, dan konsentrasi belajar para pelajar di sekolah. Namun demikian, pelaksanaannya tetap memerlukan pemantauan yang serius, transparan, dan berkelanjutan agar tujuan mulia program ini benar-benar tercapai. Pemerintah perlu memastikan kualitas makanan, kebersihan, distribusi, hingga ketepatan sasaran berjalan optimal dan tidak menimbulkan persoalan di lapangan. Selain itu, pelibatan orang tua serta kantin-kantin sekolah juga dapat menjadi bagian penting dalam pengawasan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan mekanisme yang tepat dan terkontrol, kantin sekolah maupun pelaku UMKM lokal dapat ikut berpartisipasi menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi para siswa. Hal ini bukan hanya mendukung keberhasilan program MBG, tetapi juga membantu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar sekolah. Para orang tua pada dasarnya memahami kebutuhan dan kebiasaan makan anak-anak mereka. Karena itu, komunikasi dan koordinasi antara sekolah, penyedia makanan, dan keluarga perlu diperkuat agar menu yang diberikan tetap sehat, layak konsumsi, dan disukai anak-anak. Dengan pengawasan yang ketat serta keterlibatan berbagai pihak, program MBG dapat menjadi langkah strategis dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berkualitas. 

> Lalu cari profesional di bidangnya untuk mengisi pos-pos yang bisa menunjang pertumbuhan ekonomi, dan berikan ruang bagi lembaga riset teknologi serta dana yang cukup agar anak bangsa bisa berkontribusi menemukan teknologi secara mandiri, bekerja sama dengan negara-negara industri maju. Jangan lupa belajar dari China/Tiongkok saat Deng Xiaoping mengirim ribuan pelajar mahasiswa berprestasi ke luar negeri agar saat lulus kembali ke negeri sendiri mengabdi untuk kemajuan bangsa di bidang teknologi, keuangan, serta tata cara penegakan hukum yang adil. Intinya harus dilakukan revolusi mental di segala lini. Dengan begitu akan tumbuh dan secara otomatis, dengan pengendalian inflasi yang baik, maka sandang, pangan, dan papan akan murah dan terjangkau. Kasih pendidikan yang memadai dan murah biaya, jangan seperti saat ini biaya pendidikan sangat mahal yang berakibat orang miskin tidak mampu menyekolahkan anaknya, yang tentu sudah tidak sesuai cita-cita proklamasi dan konstitusi kita mencerdaskan kehidupan bangsa.”

_“Lalu apa pesan terhadap Presiden Prabowo ke depannya dari Bapak selaku pendiri bangsa?”_

> “Pesan saya jelas, kembalikan lagi sistem ketatanegaraan yang dibangun berdasarkan negara Kesatuan Pancasila tadi, kembalikan kewenangan MPR, hapus sistem pemilu langsung, dan terapkan dwipartai, serta bangun kembali karakter anak bangsa yang berorientasi adat budaya bangsa sendiri yang cinta Tanah Air. Dan yang terakhir saya pesan sebagai orang tua dan pendiri bangsa, saya menggali Pancasila terinspirasi dari kitab Negarakertagama pada Pupuh ke-43 yang mengatur lima kaidah laku utama untuk bangsa. Untuk itu, membangun stabilitas negara bukan hanya secara fisik, tapi bangun juga secara batin. 

> Lakukan kegiatan budaya seperti halnya nenek moyang zaman raja-raja besar di Nusantara dulu, bahwa sejak nenek moyang kita wilayah Nusantara adalah tanah sakral dan tertua, lebih-lebih Jawa, seperti halnya raksasa yang sedang tidur yang menunggu ruang dan waktu yang tepat menyongsong datangnya satriyo panindito sisihaning wahyu yang berwajah manusia berbadan bala dewa, yang selalu mengayomi rakyat. Jangan abaikan rakyat. Untuk itu, bagi anak ideologis saya, Prabowo adalah pelayan rakyat, bukan ndoro raja bagi rakyat. Buat mereka gemuyu (tertawa senang) dengan kemakmuran dan keadilan, maka namamu akan dikenang baik yang tidak akan hilang dari sejarah hingga ratusan tahun ke depan.”

Demikian wawancara berakhir, semoga bermanfaat.

Oleh: Agus Widjajanto, Cikini, 18 Mei 2026
 

0

Posting Komentar